Minggu, 19 Juli 2026

Musa dan Adab Kesantrian Dalam Maulid Diba’

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 13 Desember 2025 | 23:00 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

Baca Juga: Viral Plesetan Nama Nahdlatul Ulama di X, Karena Kunjungan ke Israel? Netizen: Kecewa Sama Pengurus NU Sekarang

Berbeda dengan para ahli sihir yang berkomitman "Amanna Birabbil Alamin Rabbi Musa Wa Harun,” kaula sadhaja ampon aiman da’ Pangeranna sadhaja Alam, Pangeranna Musa ban Harun (Kami telah beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan harun) (Al A’Raf121-122), Firaun justru berkomitmen lain. Surat Yunus ayat 90 menjelaskan ucapan Firaun, “sengko’ parcaja jha’ tada’ Pangeran kajhaba se eimane Bani Israil ban sengko’ tamaso’ reng-oreng se pasra/saya percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Bani Israel dan saya adalah salah satu dari mereka yang menyerah (muslimin)”.

Ketika beriman kepada Tuhan, konsep teologi dalam alam pikir Firaun tak sama dengan konsep Tauhidnya Musa. Firaun beriman kepada konsep theismenya Bani Israil yang menyimpang. Bani Israil yang dimaksud bukanlah Bani Israilnya Musa dan Harun, tapi Israelnya Sammiri, sama dengan Israel sekarang.

Di sini terlihat peran pesantren sebagai sokoguru tauhid masyarakat. Tauhid yang berlandaskan Ahlu Sunnah Wal Jamaahnya Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi. Tauhid yang hari ini secara konsisten diserang habis-habisan oleh aliran-aliran di luar Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Pesantren NU dengan istiqomah menjaga masyarakat atas dasar komitmen yang benar, meski harus diakui ada oknum kyai dan ustadz yang tak benar di pesantren.

Komitmen seakan akan Islami namun sebenarnya menyimpang seperti tobatnya Firaun inilah yang harus diwaspadai zaman sekarang. Imam Ghazali menyebutnya sebagai fenomena Al Hamaqoh (rusak akal). Al Hamaqoh bukanlah fenomena mencari kebenaran tapi mencari pembenaran atas keyakinan yang keliru. Di masa kini kita menyaksikan doktrin-doktrin Al Hamaqoh itu seperti doktrin takfiri kelompok teroris, pluralisme kelompok liberal dan lainnya. Semoga adab kesantrian menyertai kita selalu.***

*Penulis adalah warga Sumenep, Pemerhati Sejarah Agama-Politik-Budaya.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini! 

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X