Oleh: Syarif Hidayat Santoso*
SketsaNusantara.id - Bagaimana Musa membangun dunia keadaban dalam kenabiannya. Maulid Diba’ menegaskan terlebih dulu kisah Musa dengan Kalimat Qila Huwa Musa, Qoola Musa akhuhu walakin hadza habibun wa Musa kalimun wa mukhatibun, Malaikat bertanya: “Adakah nur ini pada Nabi Musa?” Allah berfirman: “Nabi Musa itu adalah saudaranya, tetapi nur ini adalah kekasih-Ku dan Musa adalah penerima firman-Ku dan yang berbicara dengan-Ku.”
Penegasan pertama relasi Nabi Musa-Nabi Muhammad adalah Musa merupakan saudara Nabi Muhammad. Secara umum, makna bahwa Nabi Musa merupakan saudara Nabi Muhammad merupakan penegasan kesamaan genetika Ibrahim. Musa merupakan keturunan Lewi Bin Yakub Bin Ishaq Bin Ibrahim. Sementara Nabi Muhammad merupakan keturunan Qaidar Bin Ismail Bin Ibrahim.
Dalam dunia kristologi muslim, penyebutan saudara ini merupakan penegasan seperti yang tertera dalam Kitab Ulangan dalam Bibel. Menurut Mayshud SM (1992), bisa jadi Nabi Muhammad merupakan perpaduan antara keturunan Ishaq Bin Ibrahim dengan Ismail Bin Ibrahim melalui pernikahan keturunan Musa dengan keturunan Ismail di kota Madyan. Logikanya sederhana saja, keturunan Lewi Bin Yakub dalam Bani Israil ditetapkan sebagai imam-imam Bani Israil, begitu juga dengan nenek Moyang Nabi Muhammad yang juga menjabat sebagai imam-imam Quraisy. Lalu terjadilah pernikahan antara dua kelompok Imam ini, karena tidak mungkin para imam menikahi kalangan awam. Sementara kota Madyan sendiri merupakan kota di mana banyak keturunan Ismail berdiam di sana selain Mekkah. Di Madyan pula berdiam Bani Israil selain di Madinah.
Di atas bangunan persaudaraan inilah adab-adab Nabi Musa dikokohkan. Tak hanya Musa, bahkan istrinya yang merupakan wanita Madyan putri Nabi Syuaib memiliki adab kewanitaan.
Tersebut dalam Al Qasas 25 bagaimana sikap Shafura Binti Syuaib ketika berjalan mendekati Nabi Musa dengan ajhalan semmo todus (berjalan untuk semua orang). Betapa di masa itu, perempuan meskipun mengerjakan pekerjaan maskulin namun masih terikat adab kepolosan seorang wanita yang malu-malu bukan memalukan seperti sebagian wanita modern sekarang.
Adab lainnya terlihat ketika Musa berdialog dengan Tuhan, terutama dalam hal tongkat. Nabi Musa menegaskan fungsi tongkatnya yaitu fungsi panegghu’an ban paghurjuwan un daunanna pakanna embi (pemanenan dan pengolahan daun untuk pakan kambing) serta fungsi penghancur ketika menjelma menjadi ular.
Uniknya, ayat dialog Tuhan dengan Musa dalam hal tongkat inilah yang diamanahkan Syaikhona Kholil untuk dibacakan Kyai As’ad kepada Kyai Hasyim Asy’ari dalam hal pendirian NU. Ketika damai, Pesantren adalah soko guru masyarakat dimana masyarakat menyandarkan agamanya dan stabilitas religiusitasnya. Sementara di masa perang, pesantren pulalah yang menjadi salah satu garda terdepan dalam berperang.
Kesejarahan pesantren ketika damai terlihat di masa lalu pada keputusan Muktamar Banjarmasin tentang Darul Islam dan Darus Salam. Sementara di masa perang hal ini terlihat pada Resolusi Jihad, Fatwa Jihad Kyai Hasyim Asy’ari dan Resolusi Purwokerto tahun 1946.
Adab lainnya diperlihatkan ketika dakwah Musa berhadapan dengan kekuasaan. Quran menjelaskan bagaimana sopannya Musa dan Harun ketika berbicara kepada Firaun. Taha ayat 43-44 menjelaskan adab Musa dan Harun terhadap Firaun. “Maka ngoca’a ba’na kaduwa da’ Firaun kalaban ocabhan se lemmes (bericaralah dengan ramah kepada Firaun)". Kepada Firaun yang diktator kedua Nabi itu diperintahkan berlemah lembut. Di Indonesia, NU tak pernah secara kasar mengkritik kekuasaan meski kekuasaan itu otoriter.
Namun soal Adab ini ternyata tak hanya dimiliki Musa dan Harun. Tafsir Al Munir Nawawi Al Bantani menyebutkan bagaimana adabnya tukang sihir Firaun ketika akan adu tanding dengan Musa. Para tukang sihir tak congkak dan tak sewenang-wenang sama sekali meskipun posisi mereka ada di pihak kekuasaan. Mereka menawarkan kepada Musa, apakah Musa yang akan melempar duluan ataukah para tukang sihir yang akan melempar duluan. Tafsir Al Munir menyebutkan inilah sebenarnya penyebab hidayah bagi para tukang sihir.
Jadi ungkapan pesantren bahwa adab di atas ilmu adalah benar secara Qurani. Berkat adab yang baik, tukang sihir Firaun dikaruniai hidayah. Berkat adab yang tak baik, Firaun tidak diberi hidayah sampai wafat. Meski Quran menyebut tobatnya Firaun dalam komitmen keislaman menjelang matinya, namun tobat tersebut tidak diterima. Para ulama menjelaskan mengapa pengakuan Firaun untuk mengimani Tuhan Bani Israil tertolak. Salah satu sebabnya karena Tuhan yang dimaksud Firaun bukanlah Tuhan sesuai ajaran Nabi Musa dan Harun, namun Tuhan yang Mujassimah ala Sammiriy.
Artikel Terkait
Teladan Kebangsaan Ibrahim dalam Kitab Maulid Diba’