Minggu, 19 Juli 2026

Dari Hancurit ke Anjay: Melebur Makna, Menempa Nalar

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Senin, 3 November 2025 | 17:10 WIB
Hari Prasetya (Dok. SketsaNusantara.id)
Hari Prasetya (Dok. SketsaNusantara.id)

Akhirnya, refleksi ini mengingatkan kita bahwa bahasa adalah organisme sosial yang tumbuh bersama kesadaran kolektif. Ia bisa melebur, bergeser, bahkan absurd, namun tetap mencerminkan denyut kehidupan masyarakatnya. Maka, sebagaimana kata Pak Dian, mungkin tidak perlu terlalu serius menghadapi absurditas zaman. Sebab di balik absurditas itu, ada humor, keluwesan, dan kearifan lokal yang masih berdenyut, menuntun manusia untuk tetap menjadi makhluk berbahasa dan berasa.***

*Alumnus S2 UNHASY Tebuireng Jombang

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X