Akhirnya, refleksi ini mengingatkan kita bahwa bahasa adalah organisme sosial yang tumbuh bersama kesadaran kolektif. Ia bisa melebur, bergeser, bahkan absurd, namun tetap mencerminkan denyut kehidupan masyarakatnya. Maka, sebagaimana kata Pak Dian, mungkin tidak perlu terlalu serius menghadapi absurditas zaman. Sebab di balik absurditas itu, ada humor, keluwesan, dan kearifan lokal yang masih berdenyut, menuntun manusia untuk tetap menjadi makhluk berbahasa dan berasa.***
*Alumnus S2 UNHASY Tebuireng Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI
Artikel Terkait
Dari Bahasa ke Budaya, Menjaga Identitas Indonesia dalam Arus Globalisasi