Fakta saat ini Pancasila oleh sebagian besar genarasi muda bukan dianggap sesuatu yang sakral dan tidak dianggap sesuatu yang penting untuk dijiwai sebagai falsafah dala kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika dibiarkan tanpa pembinaan yang sesuai dengan era generasi muda, Pancasila yang begitu luhur dan penuh makna akhirnya tidak banyak menolong dalam usaha membangun generasi muda berjiwa nasionalisme yang kuat serta perilaku dan sikap terpuji.
Kontekstualisasi
Pancasila sudah terbukti sebagai perekat atas kemajemukan dalam bangsa Indonesia. Baik dari sisi suku, agama, ras ataupun kelompok kepentingan. Perbedaan yang sudah berlangsung sejak dahulu kala itu justru menjadi warna yang indah dalam memandang kehidupan bangsa Indonesia.
Keberadaan Pancasila ke depan akan menghadapi berbagai tantangan yang tentu lebih bervariasi bagi para generasi penerus. Terutama dengan perkembangan teknologi, yang di satu sisi juga membawa dampak negatif. Termasuk di dalamnya adalah sudah tidak adanya sekat-sekat kewilayahan, karena teknologi sudah mampu “menghapus” jarak geografis.
Konsep keberagaman dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadikan motivasi untuk melestarikan dan membangun persatuan dan tidak menimbulkan perpecahan dan tercerai-berai suatu bangsa. Pancasila inilah yang diharapkan mampu menjadi konsepsi dasar dan perekat bagi keberagaman bangsa Indonesia menjadi perekat. Pancasila sebagai sebuah ideologi, menurut Nimas Ayu Wulandari (2021), merupakan suatu sistem keyakinan melalui suatu proses dengan melibatkan adanya perbedaan dan tetap satu karena terdapat nilai-nilai di dalam ideologi itu sendiri.
Ini penting ditekankan bagi para generasi muda karena sejarah negara ini telah menulis panjang tentang jutaan para pahlawan yang telah berjuang mewujudkan Indonesia merdeka. Baik lewat jalur revolusi fisik, diplomasi, organisasi, pendidikan, kebudayaan maupun ekonomi. Sebagai penerus, sudah sepantasnya generasi sekarang mengenang heroisme dan nasionalisme serta menginternalisasikan nilai-nilai luhur tersebut pada keseharian dalam konteks kehidupan modern.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar kesaktian Pancasila bisa diaktualisasikan generasi di kehidupan mereka. Salah satunya dengan menghadirkan kisah-kisah penuh makna. Aspek yang sekarang ini banyak hilang dalam kehidupan adalah teladan karena era digital ini lebih didominasi oleh sensasi dibandingkan kontemplasi.
Baca Juga: Wali Murid Sekolah Elit Al Izzah Tangerang Tegas Tolak MBG, Singgung Soal Kemampuan
Implikasinya, perilaku yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan moral semakin banyak terjadi. Pada titik inilah internalisasi Pancasila menemukan titik signifikansinya. Agar keluhuran budi dalam Pancasila terus terjaga dengan baik meski arus deras modernisasi menyapa.
Generasi muda Pancasila sudah sepatutnya mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kontribusi positif bagi pembangunan ibu pertiwi. Berargumen dengan dukungan dokumen, bukan sekedar berlandaskan sentimen. Berkontribusi nyata melalui data, bukan sekedar kata. Semoga terus mewujud.***
*Penulis buku Nasionalisme Generasi Milenial (2024)
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Momen Hari Lahir Pancasila, Mahfud MD Singgung Soal Ketimpangan dan Kemiskinan Sosial di Indonesia
4 Fakta menarik Monumen Pancasila Sakti di Jakarta, Dibangun Soeharto hingga Jadi Pengingat Peristiwa G30S PKI
Mahasiswa PTNU Sejatim Berkumpul, Jadikan Muswil-Muskerwil Sebagai Ruang Aktualisasi dan Jaga Kondusifitas Bangsa