Oleh: Syarif Hidayat Santoso*
SketsaNusantara.id - Adakalanya kita tak selalu harus moderat terus. Harus ada kombinasi moderat dengan ketegasan sikap dalam beragama. Adakalanya sikap welas asih, empati dan kesantunan itu harus tunduk pada ketentuan "Murka Tuhan" tentang turunnya azab. Dulu, Nabi Ibrahim kedatangan tamu para malaikat yang memiliki dua misi.
Pertama, misi untuk memberikan kabar gembira akan lahirnya Ishak. sebuah kabar gembira yang unik, karena baik Ibrahim maupun Sarah telah mandul.
Kedua, memberi kabar tentang azab yang bakal turun kepada umat Nabi Lut, nabi yang diutus ke kota Sodom dan Gomora yang masih merupakan familinya itu.
Baca Juga: Heboh Ibu-ibu Tagih Janji Uang Rp200 Juta dari Ivan Gunawan. Ternyata....
Al Quran menggambarkan detik-detik menggembirakan dan histeris tentang kelahiran Ishaq dengan sangat indah. Al Quran juga menceritakan tepuk wajah Sarah (Fashokkat Wajhaha), tradisi tepuk wajah yang menjadi tradisi Bani Israil dan bangsa Arab sebelum datangnya Risalah Muhammad.
Namun, ketika sampai kepada kisah tentang akan turunnya azab kepada umat Luth, Al Quran bercerita tentang welas asih Ibrahim. Hal ini dapat dipahami pada kalimat berikut: "Ibrahimpun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. (Q.S. Hud: 69-76).
Ayat di atas menjelaskan sifat Ibrahim yang welas asih kepada manusia, Ibrahim mendebat Malaikat agar tak mengazab umat nabi Luth. Namun, keputusan Tuhan tak dapat diubah untuk menurunkan azab kepada umat Luth.
Hal ini menunjukkan kepada kita adakalanya sikap santun, welas asih, dan moderat itu harus tunduk kepada ketegasan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kisah ini menunjukkan pada kita, adakalanya kita harus keras dan tegas pada suatu waktu. Bukankah wajah para Nabi itu memang kombinasi antara kelembutan dengan ketegasan bersikap.
Selain Ibrahim, nabi kita, Nabi Muhammad itu punya dua wajah. Wajah santun dan lembut seperti Isa, dan wajah keras tegas seperti Musa.
Dalam menyikapi para penghina agama, sikap Rasul terpancar dua karakter. Sikap memaafkan yang tanpa pamrih dan diiringi kelembutan.
Sikap ini terlihat jelas pada Fathu Mekkah. Di mana Rasul memberi maaf pada penduduk Mekkah. Termasuk Abu Sufyan, Hindun si pemakan hatinya, Hamzah Bin Abdul Mutholib, Abdullah Bin Sa'ad Bin Abi Sarah yang awalnya boleh dibunuh meskipun bergelantung di kelambu ka'bah tapi selamat berkat lobi Usman Bin Affan, juga ampunan Rasul bagi pembunuh putrinya sendiri, Zainab, yaitu Habbar Al Aswad, Wahsy pembunuh Hamzah dan lainnya.
Artikel Terkait
Dialog Jaga Kerukunan, Kemenag Jombang Gelar Diskusi Pengembangan Kampung Moderasi Beragama
Luncurkan Ikrar Griya Moderasi Beragama, UIN KHAS Jember Tegaskan Aksi Nyata Moderasi Lintas Agama
Kampung Moderasi Beragama di Jombang Peringati Maulid Nabi, Berharap Indonesia Segera Pulih