Minggu, 19 Juli 2026

ISNU, Kekuatan Besar Tanggung Jawab Besar

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Selasa, 26 Agustus 2025 | 21:10 WIB
Dr. H. Asy’ariy, M.Pd (dok. SketsaNusantara.id)
Dr. H. Asy’ariy, M.Pd (dok. SketsaNusantara.id)

Oleh: Dr. H. Asy’ariy, M.Pd

SketsaNusantara.id - Penggalan Mars ISNU “Berbakti, Mengabdi, Beraksi “ adalah ruh dan spirit gerakan cendekia dalam khidmat untuk NU, umat dan bangsa. Berbakti dan mengabdi memiliki makna penyerahan diri tanpa pamrih, ikhlas, dan semata untuk NU, umat, dan bangsa yang pada akhirnya secara tidak langsung adalah pengabdian pada Allah SWT. Kata ketiga “Beraksi” adalah implikasi logis dari berbakti dan mengabdi berupa produk atau kemanfaatan ISNU secara riil di masyarakat.

Sarjana adalah predikat atau sebutan bagi mereka yang lulus perguruan tinggi atau dalam kaidah lain. Sarjana adalah cerdik cendekia yang diyakini mampu “membantu” menyelesaikan masalah di masyarakat atau komunitas besar atau memberi kemanfaatan pada hajat hidup orang banyak. Ada distingsi yang kuat antara sarjana dan yang bukan sarjana dalam perspektif umum.

Baca Juga: Zulhas Terima Bintang Republik Indonesia Utama dari Presiden Prabowo, Dedikasikan untuk Petani, Nelayan, dan Pedagang Kecil

Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) adalah Badan Otonom (Banom) NU dengan kekuatan besar dengan banyaknya kaum muda intelektual berpendidikan tinggi. Tidak sedikit diantara sekian puluh pengurus baru yang dilantik bergelar Doktor berbagai disiplin ilmu. Kombinasi intelektual cendekia, birokrasi, dan pesantren membuka peluang khidmat dan berkarya lebih luas. Bisa dibilang kepengurusan ISNU Jombang adalah best squad (skuad terbaik) untuk berbakti, mengabdi, dan beraksi. Kekuatan besar, maka sudah pasti punya tanggung jawab besar.

Beraksi dengan ilmu dan kebijaksanaan adalah kekuatan. Ungkapan “Kekuatan besar punya tanggung jawab besar” (Great power has great responsibility) menjadi tolok ukur sebuah kemanfaatan. Kekuatan bisa berupa ilmu pengetahuan yang dimiliki atau gelar pendidikan tinggi. Sarjana adalah bagian dari pemilik kekuatan itu. Ukuran kemanfaatan subjektif dalam banyak perspektif. Namun, secara sederhana adalah kemampuan berkhidmat pada wadah atau organisasi yang menaunginya dan memberi manfaat besar bagi peradaban. Diperlukan sinergi dan kolaborasi untuk mewujudkan itu semua.

Baca Juga: Heboh Tunjangan DPR Hingga Rp 50 Juta Per Bulan, Wakil Ketua DPR RI Berikan Klarifikasi

Sinergi dan kolaborasi antara pesantren, birokrasi, dan cendekia dalam tubuh ISNU adalah kekuatan besar. Namun tantangan yang dihadapi juga besar. Terutama sebagai agen perubahan yang mampu meneguhkan Islam yang ramah, umat yang kuat, literatif, berdaya saing, dan tentu saja sanggup menjaga Marwah NU sebagai garda depan mengawal NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945. Sinergi dan kolaborasi antara ketiganya diyakini mampu menggabungkan khidmat, bhakti, dan aksi secara terukur dan presisi.

Strategi kolaborasi yang mungkin bisa digunakan untuk meningkatkan sinergi ketiga pilar ISNU Jombang. Sehingga, untuk mencapai tujuan bersama dapat dilakukan dengan adanya komunikasi terbuka, tujuan bersama, pembagian peran dan tanggung jawab. Adanya penggunaan teknologi tentu harus dibarengi dengan evaluasi dan penyesuaian. Tak cukup hanya dengan itu, pengembangan kapasitas dan keterampilan semua pengurus yang terlibat dalam kolaborasi melalui pelatihan dan pengembangan atau strategi kreatif lain perlu diinisiasi.

 Baca Juga: Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad Terima Bintang Republik Indonesia Utama di Tengah Gejolak Demo Rakyat

Optimisme ISNU Jombang mampu mengambil peran penting dan memberi manfaat pada umat dan negara tidak lepas dari janji untuk berbakti, mengabdi, dan beraksi. Dengan Kekuatan besar terdapat tanggung jawab besar.***

Wallahu a'lam bissawab

ISNU Jombang Maju, Maju, Maju

*Bidang Organisasi dan Pengembangan SDM PC ISNU Jombang

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X