Generasi milenial ini akan jauh lebih melek teknologi, berorientasi digital, berpikir kritis, peduli dan mandiri. Mereka lahir bersamaan dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi yang membuat mereka mengenal gawai, mengakses komputer dan memiliki sosial media. Perilaku mereka memilih jalur daring untuk beraktivitas dalam keseharian.
Mereka sebagai kelompok umur yang masuk dalam era keterbukaan informasi dan komunikasi. Mereka mampu menerabas sekat-sekat negara yang sudah dibentangkan secara geografis sejak dahulu. Generasi inilah yang, di satu sisi, dikhawatirkan akan mengalami gerusan semangat nasionalisme, di samping juga alienasi dari lingkungan sekitarnya.
Masa yang dialami generasi milenial, secara teoritis, adalah usia yang sedang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan. Dengan karakter dinamis, menurut Mulyana (2011), mereka bisa memiliki karakter yang bergejolak, optimis dan belum mampu mengendalikan emosi yang stabil.
Pemuda milenial, menurut Koentjaraningrat (1997), adalah suatu fase yang berada dalam siklus kehidupan manusia, bisa ke arah perkembangan atau perubahan. Sedangkan menurut Taufik Abdullah (1974), mereka adalah generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Realita masih banyaknya generasi milenial yang terjebak dalam kasus hukum menjadi fakta memprihatinkan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa proses kemunduran bangsa di masa depan mulai terasa. Meski tidak semua, mereka memaknai kehidupan ini dalam konteks instant, nir-makna.
Fakta semacam ini tentu menimbulkan kegelisahan secara luas. Sulit dibayangkan masa depan bangsa ini, menurut Ngainun Naim (2024), jika rasa memiliki terhadap bangsa tidak tumbuh di kalangan generasi milenial. Padahal kelompok muda inilah yang nanti akan menjadi pemimpin.
Untuk mencapai itu, menurut Prof. Azumardy Azra (1999), kaum muda Indonesia memiliki sejumlah modal dasar yang memadai untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Di antara modal dasar terpenting adalah kenyataan bahwa rakyat dan bangsa Indonesia adalah amat agamis, yang sangat menghormati ajaran-ajaran agama.
Tahan Malang
Tantangan generasi milenial ke depan tentu jauh lebih kompleks dari para generasi sebelumnya. Terlebih bonus demografi juga berdampak negatif, di samping dampak positif. Dibutuhkan sikap arif yang berkesinambungan dalam mempersiapkannya. Tidak bisa diwujudkan secara instant. Tentu membutuhkan proses dan perjuangan yang harus dilewati.
Sebagai nilai lebih, generasi muda harus memiliki daya berjuang yang tidak mengenal putus asa dalam menghadapi rintangan. Istilah yang populer digunakan adalah Adversity Quotient (AQ). Dia dikenal sebagai ilmu ketahanan.
Kondisi ini dikarenakan Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ), belum mampu menjawab tantangan zaman. Di era modern yang serba digital, justru AQ akan berbicara banyak dalam menentukan keberhasilan generasi muda Indonesia dalam meraih masa depannya.
Dia menjadi representasi dari seseorang untuk menghadapi tantangan dan melewati masa sulit dalam hidup dan keluar dari situ tanpa kehilangan akal sehat. Ketika dihadapkan pada masalah, AQ menentukan siapa yang akan menyerah, siapa yang akan meninggalkan keluarganya dan bagaimana cara seseorang menghadapinya.
Artikel Terkait
10 Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1446 H, Ungkapan Penuh Arti dan Makna untuk 1 Muharram
7 Peristiwa Penting Bersejarah pada 10 Muharram, Ada Nabi Ibrahim yang Selamat dari Api Raja Namrud
5 Keutamaan Puasa Asyura dan Tasua Tanggal 9 Sampai 10 Muharram: Ada Pahala Setara 10 Ribu Malaikat