Minggu, 19 Juli 2026

Substansi Hijrah dan Hijriyah Bagi Generasi Milenial

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 26 Juni 2025 | 08:40 WIB
Mukani. (Dok. SketsaNusantara.id )
Mukani. (Dok. SketsaNusantara.id )

Mukani*

SketsaNusantara.id - Momentum peringatan tahun baru Islam (hijriyah) menjadi saat tepat bagi generasi milenial untuk melakukan refleksi. Meski mayoritas mereka masih asing dengan istilah hijriyah dalam memulai kalender. Dalam benak mereka, rata-rata terpendam memori hanya meniup terompet menjelang tanggal 1 Januari.

Makna Substantif

Kalender hijriyah, yang digunakan dalam sistem periodik Islam, merupakan sistem penghitungan waktu dalam satu tahun. Penetapan ini berdasarkan peristiwa kepindahan (hijrah) Nabi Muhammad Saw dari kota Mekkah ke Yatsrib. Keputusan ini terpaksa diambil karena eksistensi komunitas Islam di Mekkah sangat diintimidasi kaum kafir Quraisy.

Keberadaan kalender hijriyah sama dengan kalender Masehi. Memiliki 12 bulan dengan jumlah 354 hari dalam satu tahun. Setiap pekan juga terdiri tujuh hari. Hanya saja pergantian hari dimulai saat matahari terbenam menjelang Maghrib. Berbeda dengan kalender Masehi yang dimulai tengah malam.

Peristiwa hijrah sendiri, di samping perintah Allah Swt langsung kepada Nabi Saw, merupakan strategi dakwah. Ini mengingat kondisi masyarakat kota Mekkah yang belum bisa menerima Islam.

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat NU 20 Juni 2025 dengan Tema Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1447 H

Berbagai kekhawatiran dan kecurigaan para penduduk Mekkah kemungkinan tergesernya status sosial mereka menjadikan intensitas penolakan mereka kepada pemeluk Islam terus meningkat. Gerakan ini tidak main-main dalam mengancam nyawa Nabi Saw. Bahkan dipimpin langsung oleh Abu Lahab dan Abu Jahal, kedua paman Nabi Saw sendiri.

Secara sosial, Mekkah masih didominasi suku Quraisy yang memang menolak kehadiran Islam. Ini berbeda dengan Yatsrib yang struktur sosialnya dibangun dari multietnis dan multiagama. Setelah Nabi Saw hijrah ke sana, nama Yatsrib diubah menjadi Madinah.

Peristiwa hijrah mengajarkan kepada umat Islam untuk tidak mengenal lelah dalam berusaha. Terutama dalam konteks sekarang untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang Islam. Kemudian secara totalitas (kaffah) mengikuti ajaran agama di dalamnya.

Usaha pantang menyerah, berani mengambil resiko, optimis, peka realita sosial dan pengelolaan konflik sudah ditunjukkan Nabi Saw dalam peristiwa hijrah. Tidak heran jika akhir usaha itu berujung kepada persatuan penduduk melalui Piagam Madinah, meski banyak beda dari segi suku dan agama. Bahkan kota Mekkah pun akhirnya mampu ditata kembali bagi penyebaran Islam melalui peristiwa Fathu Makkah.

Baca Juga: Kumpulan 8 Link Twibbon Ramadhan 2025/1446 Hijriyah Desain Estetik dan Elegan Padukan dengan Foto Terbaik di Media Sosial

Tantangan Milenial

Generasi milenial dalam tulisan ini merujuk mereka yang lahir mulai tahun 1981. Sehingga di dalamnya termasuk Gen Z yang mulai lahir di tahun 1997-2012 dan Gen Alpha yang lahir setelah Gen Z.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X