Data menyebutkan, 20 persen generasi milenial dengan senang hati berbagi kata sandi yang berpotensi mengorbankam keamanan daring mereka. Kemudian sebagian besar konsumen Indonesia atau sekitar 90 persen menggunakan koneksi Wi-Fi publik.
Banyak Cara
Kondisi ini harus menemukan titik solusi. Keberlangsungan bangsa Indonesia ke depan akan menjadi tanggung jawab mereka. Meski terdapat beberapa hal-hal yang tidak bisa ditawar terkait kedaulatan bangsa.
Fenomena era milenial ini sesungguhnya menyediakan ruang bagi manusia modern untuk melakukan refleksi dalam maknanya yang substantif. Teknologi, menurut Ngainun Naim (2024), memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Meski demikian, manusia seharusnya memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Bukan justru terhegemoni dan tidak menjadi manusia yang kreatif.
Teknologi telah menghadirkan sisi positif dan negatif. Ini realitas yang harus dipahami dan disadari bersama. Pemahaman dan kesadaran ini menjadi titik pijak untuk menentukan langkah selanjutnya. Bagi manusia konstruktif, langkah yang bisa dilakukan—antara lain—adalah memanfaatkan teknologi secara maksimal dan mencari solusi atas ekses yang ikut serta.
Salah satu hal fundamental yang mengalami perubahan adalah perspektif Pancasila pada generasi milenial. Seiring arus globalisasi dan derasnya informasi, Pancasila juga mengalami perubahan di kalangan milenial. Batas-batas antar negara secara sosial, politik, ekonomi dan budaya menjadi kabur. Orang bisa dengan mudah masuk ke ruang-ruang antar negara. Implikasinya, muncul ketidakpedulian generasi milenial terhadap “nasib” Pancasila.
Realitas semacam ini tentu menimbulkan kegelisahan secara luas. Sulit dibayangkan masa depan bangsa ini jika rasa memiliki terhadap bangsa tidak tumbuh di kalangan generasi muda. Padahal kelompok muda inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin.
Satu strategi yang bisa ditempuh untuk menanamkan nasionalisme adalah melalui Pancasila. Mungkin terdengar normatif-dogmatis. Banyak juga kritik ditujukan pada strategi penyampaian materi Pancasila di kelas yang tidak sesuai dengan harapan. Review pembelajaran Pancasila, menurut Nurgiansyah (2021), cenderung membosankan, monoton dan tidak inovatif. Jika Pancasila diharapkan bisa dipahami secara baik dan terinternalisasi dalam perilaku hidup sehari-hari, menurut Ngainun Naim (2015), diperlukan langkah-langkah kreatif-konstruktif agar apa yang menjadi tujuan bisa tercapai.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan menghadirkan kisah-kisah penuh makna. Aspek yang sekarang ini banyak hilang dalam kehidupan adalah teladan karena era digital menurut Hardiman (2021) ini lebih didominasi oleh sensasi dibandingkan kontemplasi. Implikasinya, perilaku yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan moral semakin banyak terjadi. Pada titik inilah internalisasi Pancasila menemukan titik signifikansinya.***
* Dosen STIT Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kumpulan Komentar Lucu Netizen Tanggapi Dollar Anjlok hingga 1 USD AS Jadi Rp8 Ribu, Agus Buntung hingga Pemuda Pancasila Ikut Disebut
6 Arti Logo Kabupaten Jember Jawa Timur, Ada Padi dan Kapas Melambangkan Sama seperti Pancasila?
Teks Khutbah Jumat NU 30 Mei 2025 Tema Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Jangan Sampai Bangsa Indonesia Terpecah Belah