Mukani*
SketsaNusantara.id - Hari lahir Pancasila setiap 1 Juni menjadi momentum refleksi. Terutama terkait eksistensi nilai-nilai luhur Pancasila dalam konteks kehidupan di era milenial. Baik terkait nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah maupun keadilan.
Upaya refleksi ini menjadi semakin urgen saat disadari makin kompleks problematika yang dihadapi di era kecanggihan teknologi ini. Bahkan dalam banyak kasus, tujuan hendak dicapai dengan cara-cara instant. Tidak mempedulikan prosedur dan etik dalam mencapai titik yang diinginkan.
Ancaman Siber
Generasi milenial merupakan istilah yang berasal dari kata millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.
Generasi milenial adalah masyarakat sosial yang melek dan adaptable pada teknologi. Mereka cenderung suka memanfaatkan teknologi untuk mempermudah segala aktivitas, tidak terkecuali aktivitas belanja. Dengan kemajuan teknologi cara pembayaran membuat generasi ini makin cenderung tidak membawa uang tunai (cashless).
Generasi milenial didefinisikan sebagai kelompok umur yang masuk dalam era keterbukaan informasi dan komunikasi, mampu menerabas sekat-sekat negara yang sudah dibentangkan secara geografis sejak dahulu kala. Artinya, melalui perkembangan teknologi digital yang sudah canggih, dengan mudah sekarang orang akan berkomunikasi dengan para relasinya di luar negeri. Generasi inilah yang, di satu sisi, dikhawatirkan akan mengalami gerusan semangat nasionalisme, di samping juga alienasi dari lingkungan sekitarnya.
Generasi milenial lahir bersamaan dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi yang membuat mereka mengenal gawai, mengakses komputer dan memiliki sosial media. Hal tersebut membentuk karakter yang kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan teknologi.
Studi tersebut menggambarkan perilaku generasi akrab internet ini memilih jalur daring untuk meneliti dan membeli beragam produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kepemilikan perangkat mobile menjadi salah satu faktor paling signifikan terhadap perilaku belanja daring. Berdasarkan riset Nielsen tersebut, Indonesia memiliki peringkat teratas secara global dalam hal penggunaan ponsel pintar untuk belanja daring.
Lekat dengan dunia maya, memiliki pengetahuan tinggi dalam menggunakan platform dan perangkat mobile, ternyata melahirkan titik lemah bagi para generasi internet. Titik lemah tersebut berdampak buruk terhadap keamanan generasi milenial di dunia maya.
Salah satunya ancaman siber yang siap menerkam para pengguna. Norton Cyber Security mengeluarkan Insight Report November 2016. Penelitian dilakukan secara daring tersebut melibatkan 20.907 responden dari 21 negara dunia, termasuk Malaysia, Singapura dan Indonesia. Penelitian berlangsung pada 14 September sampai tanggal 6 Oktober 2016. Sampel di Indonesia melibatkan lebih dari seribu pengguna berusia 18 tahun ke atas yang dipilih secara random.
Artikel Terkait
Kumpulan Komentar Lucu Netizen Tanggapi Dollar Anjlok hingga 1 USD AS Jadi Rp8 Ribu, Agus Buntung hingga Pemuda Pancasila Ikut Disebut
6 Arti Logo Kabupaten Jember Jawa Timur, Ada Padi dan Kapas Melambangkan Sama seperti Pancasila?
Teks Khutbah Jumat NU 30 Mei 2025 Tema Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Jangan Sampai Bangsa Indonesia Terpecah Belah