Kamis, 4 Juni 2026

Kisah Keistimewaan Pelana Kuda Karomah Sunan Muria yang Sekarang Dipakai Warga Kudus di Musim Kemarau, jadi Pawang Hujan?

Photo Author
Anisa Maharani, Sketsa Nusantara
- Rabu, 17 Juli 2024 | 15:00 WIB
Potret Sunan Muria. (Instagram @syahbudin.ibrahim.new)
Potret Sunan Muria. (Instagram @syahbudin.ibrahim.new)

Seperti dikutip SketsaNusantara.id dari Buku Atlas Wali Songo yang ditulis oleh Agus Sunyoto cetakan 2017, pelana kuda Raden Umar Said itu disimpan di Kompleks Makam Sunan Muria.

Baca Juga: Jadi Kesukaan Sunan Muria, Intip Kuliner Khas Kudus yang Muncul 1 Tahun Sekali, Wali Songo Ini Doyan Makan Sehat? 

Kondisi pelana kuda Sunan Muria itu memang tidak sebagus dulu dan terlihat sudah rusak dan nampaknya tidak bisa digunakan untuk memacu kuda.

Namun, masyarakat sekitar Kompleks Makam Sunan Muria percaya dengan karomah yang diberikan Tuhan kepada tokoh Wali Songo tersebut.

Setiap tahun apabila kemarau dan lama tak turun hujan, masyarakat melakukan rutinitas atau tradisi yang disebut guyang cekathak.

Baca Juga: Apa Julukan Sunan Muria? Tokoh Wali Songo Termuda yang Menyebarkan Dakwah dengan Metode Akulturasi Budaya

Tradisi ini merupakan kegiatan membasuh atau membersihkan pelana kuda Sunan Muria yang dilakukan warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus.

Warga bersama dengan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria melakukan tradisi dengan sejumlah pelengkap seperi bawaan nasi berkat.

Kegiatan dilakukan dengan tahlil dan doa di aula Kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria.

Baca Juga: Sunan Muria di Kota Apa ? Inilah Keberadaan Tempat dari Sunan Termuda Sekaligus Keturunan Sunan Kalijaga

Setelah itu dilakukan iring-iringan sambil bersholawat membawa pelana kuda Sunan Muria menuju ke Sendang Rejoso yang berjarak sekitar setengah kilometer.

Saat sampai di Sendang Rejoso, pelana kuda Sunan Muria dibersihkan dengan air sendang dilanjutkan dengan makan berkat bersama.

Simbol atau filosofi guyang cekathak merupakan istighosah memohon kepada Allah SWT untuk meminta diturunkannya hujan terutama di musim kemarau.

Baca Juga: Karomah Sunan Muria, Kini Masih Dirasakan Masyarakat Kudus: Bisa Turunkan Hujan hingga Sembuhkan Penyakit!

Hal yang unik dari kegiatan ini di akhiri dengan menaburkan cendol dawet sebagai simbolis turunnya hujan.

Halaman:

Editor: Anisa Maharani

Sumber: Buku Atlas Wali Songo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X