Minggu, 19 Juli 2026

Mengulik Sejarah Bubur Suro, Wasilah Nabi Nuh Sebagai Penyatu Perbedaan Perspektif Serta Filosofi dalam Tradisi Islam dan Jawa

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 Juli 2024 | 18:00 WIB
Bubur Suro makanan sarat makna dan filosofis (Instagram/@dapoer_bigle)
Bubur Suro makanan sarat makna dan filosofis (Instagram/@dapoer_bigle)

Baca Juga: Anak-anak Boleh Ikut, 5 Tradisi Malam 1 Suro di Berbagai Daerah di Pulau Jawa, Mulai Jamasan Pusaka Hingga Pawai Obor

Sekitar 40 hari bahtera Nabi Nuh terombang ambing banjir bandang dengan membawa banyak penumpang mulai dari manusia, ternak hingga tumbuhan, lalu selamat dan terdampar di diatas gunung.

Peristiwa terdamparnya Nabi Nuh itu terjadi tepatnya tanggal 10 Muharram, sehingga setelahnya sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, Nabi Nuh menyuruh kaumnya untuk membuat bubur.

Seperti yang dilansir SketsaNusantara.id dari Kitab I’anah Thalibin jilid 2 halaman 267, Nabi Nuh menyuruh kaumnya untuk membuat bubur dari sisa perbekalan yang mereka bawa.

Nabi Nuh menyuruh kaumnya untuk mengambil beberapa jenis kacang masing-masing sekepal atau satu genggaman, dimana jenis kacang tersebut adalah kacang, adas, beras, gandu, jelai (buahnya keras bahan tasbih).

Ia memerintahkan agar semua biji-bijian itu dimasak bersamaan sebagai bentuk syukur yang akan membuat kaumnya bahagia karena selamat dari banjir dahsyat.

Baca Juga: 5 Fakta Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta: Jumlah dan Jenis Hewan, Pusaka, Waktu, Rute, hingga Ritual yang Dilakukan

Setelahnya bubur itu dimasak bersama-sama dan disantap bersama-sama dengan penuh bahagia dan syukur atas berkah keselamatan yang mereka terima berkat bahtera Nabi Nuh dan berkah keselamatan dari Allah SWT.

Adat Jawa dan tradisi Islam mungkin memiliki perspektif yang berbeda dalam merayakan 1 Suro dan 1 Muharram yang bersamaan, namun mereka disatukan oleh satu bubur bernama jenang suro.

Tradisi menyajikan bubur Suro yang memiliki filosofi mendalam ini tetap hidup bahkan lekat menjadi kebudayaan Jawa dan Islam, sebagai sebuah wasilah Nabi Nuh untuk saling berbagi kebahagiaan kepada sesama umat manusia.***

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Kitab I’anah Thalibin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X