Minggu, 19 Juli 2026

Mengulik Sejarah Bubur Suro, Wasilah Nabi Nuh Sebagai Penyatu Perbedaan Perspektif Serta Filosofi dalam Tradisi Islam dan Jawa

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 Juli 2024 | 18:00 WIB
Bubur Suro makanan sarat makna dan filosofis (Instagram/@dapoer_bigle)
Bubur Suro makanan sarat makna dan filosofis (Instagram/@dapoer_bigle)

 

SketsaNusantara.id – Tanggal 1 Suro dalam penanggalan Jawa dan 1 Muharram dalam penanggalan Islam memiliki waktu yang bersamaan.

Namun meski bersamaan, ada dua perspektif dan juga dua cara berbeda dalam merayakannya, namun disatukan oleh satu makanan bernama jenang suro atau bubur Suro.

Dalam perspektif Jawa, malam 1 Suro diartikan sebagai malam pergesekan antara manusia dengan mahluk gaib atau astral.

Baca Juga: 4 Fakta Menarik Tradisi Larap Slambu di Gunung Kemukus Sragen, Prosesi Malam 1 Suro Kompleks Makam Pangeran Samudro

Jika ditelisik dari unsur budaya, secara etimologi dan metafisik khususnya di tanah Jawa maka malam 1 Suro diartikan sebagai malam puncak aktivitas mahluk gaib di tanah Jawa.

Untuk itu dalam kepercayaan jawa, ada beberapa adat kebiasaan yang tak boleh dilanggar pada malam 1 Suro ini.

Misal, tak bepergian atau keluar rumah atau beberapa weton yang dianggap sakral dengan sebutan weton tulang wangi untuk waspada karena saat itu kepekaannya pada mahluk astral akan semakin menajam.

Hal itu disebabkan pada malam itu gerbang gaib sedang terbuka sehingga makhluk-makhluk astral bisa dengan bebas menjumpai manusia.

Baca Juga: Apa Itu Jamasan Pusaka Malam 1 Suro di Solo? Ini 4 Fakta Tradisi Masyarakat Jawa dan Ada Tahapan Penting Nggak Boleh Ngawur

Untuk itu dalam tradisi Jawa ada beberapa kegiatan yang dilakukan menyambut malam 1 Suro ini, antara lain kegiatan mubeng Beteng (memutari benteng) di Keraton Yogyakarta, memandikan benda-benda pusaka keraton hingga topo bisu.

Dan tentu saja, membuat jenang suro atau bubur suro yang disajikan dengan lauk berupa opor ayam dan sambal goreng serta tujuh jenis kacang mulai dari kacang tanah, kacang mede, kacang merah dan jenis kacang lainnya yang nantinya akan dibagikan kepada para tetangga.

Sedangkan dalam perspektif Islam, malam 1 Suro disebut sebagai 1 Muharram yang merupakan tahun baru Islam dalam kalender Hijriyah.

Dalam Islam, 1 suro atau 1 Muharram merupakan awal bulan yang memiliki banyak keutamaan dan kaitan erat dengan sejarah umat Islam terkait beberapa peristiwa besar.

Satu peristiwa yang kemudian menjadi sejarah keberadaan bubur suro adalah peristiwa selamatnya bahtera Nabi Nuh dari banjir bandang.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Kitab I’anah Thalibin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X