Kamis, 4 Juni 2026

Ngeri! Rasulullah SAW Peringatkan tentang Orang yang Bangkrut di Akhirat Meski Sudah Berbuat Kebaikan di Dunia, Ini Ciri-Cirinya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 26 Maret 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi orang yang merugi dan bangkrut di akhirat meski beramal baik serta rajin beribadah semasa hidupnya  (Pexels/Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi orang yang merugi dan bangkrut di akhirat meski beramal baik serta rajin beribadah semasa hidupnya (Pexels/Tima Miroshnichenko)

Dilansir SketsaNusantara.id dari situs resmi Nahdlatul Ulama (NU), juga dijelaskan bahwa orang yang mengalami kebangkrutan di akhirat karena ia hanya menjaga hubungan dengan Allah, tetapi lalai dalam menjaga hubungan dengan manusia (hablumminannas). Padahal dalam Islam, keduanya harus berjalan seimbang.

Bentuk kezaliman tidak selalu berupa kejahatan besar. Ucapan yang menyakitkan, ghibah yang dianggap sepele, hutang yang tidak dikembalikan, atau mengambil hak orang lain tanpa merasa bersalah juga termasuk perbuatan yang bisa menghabiskan pahala.

Dalam Al-Qur'an dalam Surah Asy-Syura ayat 42, Allah berfirman, "Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih." 

Selain itu dalam Surah Al-Asr (ayat 1-3), Allah SWT juga menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian mutlak karena menyia-nyiakan waktu, kecuali bagi mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini adalah kunci keberuntungan dunia dan akhirat. 

Oleh sebab itu, peringatan tentang orang yang bangkrut di akhirat bukan ditujukan kepada orang yang tidak beribadah, tetapi justru kepada mereka yang rajin beramal, namun tidak bisa menjaga hati, lisan, dan sikap terhadap sesama.

Islam mengajarkan bahwa keselamatan di akhirat bukan hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah, tetapi juga oleh akhlak, kejujuran, dan keadilan dalam memperlakukan orang lain.

Jika hati dibiarkan retak karena melakukan kezaliman yang dianggap sebagai hal sepele, maka amal ibadah yang besar pahalanya bisa hilang seperti debu.

Di situlah Idulfitri mengajarkan manusia untuk saling menjaga hubungan baik dengan sesama dengan saling memaafkan untuk menghapus segala kesalahan yang diperbuat.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: NU Online

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X