Beberapa aturan yang harus dipatuhi yakni mengenakan busana rapi dan tidak boleh mengenakan celana pendek serta berperilaku tertib atau tidak berbicara selama mengelilingi Keraton Yogyakarta.
Rute Mubeng Beteng yang dilaksanakan tahun ini dimulai dari Kamandungan Lor (Keben) menuju Ngabean ke Pojok Beteng Kulon, lalu melewati Jalan MT Haryono ke Pojok Beteng Wetan dilanjut ke Brigjen Katamso, kemudian Jalan Ibu Ruswo hingga Alun-alun Utara dan kembali lagi ke Keraton Yogyakarta.
Prosesi mengelilingi Keraton Yogyakarta ini merupakan bagian dari tirakat lampah ratri, yakni madrawa atau munajat yang bermakna berdoa sepenuh hati ke hadirat Allah SWT dengan berjalan mengikuti lintasan tertentu.
Tradisi Mubeng Beteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini terinspirasi dari perjalanan suci hijrah dari Mekah ke Madinah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
Menyerupai thawaf dalam ibadah haji, prosesi lampah ratri pada tradisi Mubeng Beteng pun menggambarkan kesederhanaan dengan berkeliling Keraton Yogyakarta tanpa mengenakan alas kaki.
Prosesi Mubeng Beteng ini mencerminkan perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang penuh keprihatinan dan penderitaan melintasi lautan pasir yang sangat panas tanpa menggunakan alas kaki saat hijrah dari Mekah ke Madinah.
Perjalanan hijrah Nabi Muhammad ini kemudian menjadi landasan peringatan tahun baru di Jawad an Nuswantara sebagai laku prihatin yang sangat berbeda pada peringatan tahun baru Masehi yang dirayakan dengan pesta pora.
Suasana yang khidmat, senyap dan sakral pada tradisi Mubeng Beteng ini juga bertujuan untuk merefleksikan diri selama satu tahun sebelumnya dan bermunajat agar diberi kelancaran dan keberkahan pada kehidupan tahun berikutnya.***