Minggu, 19 Juli 2026

Sambut Tahun Baru Islam, Keraton Yogyakarta Lakukan Tradisi Mubeng Beteng pada Malam 1 Suro, Ini Maknanya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 8 Juli 2024 | 06:05 WIB
Abdi Dalem beserta masyarakat laksanakan tradisi Mubeng Beteng pada malam 1 suro menyambut tahun baru Islam (jogjaprov.go.id)
Abdi Dalem beserta masyarakat laksanakan tradisi Mubeng Beteng pada malam 1 suro menyambut tahun baru Islam (jogjaprov.go.id)

Beberapa aturan yang harus dipatuhi yakni mengenakan busana rapi dan tidak boleh mengenakan celana pendek serta berperilaku tertib atau tidak berbicara selama mengelilingi Keraton Yogyakarta.

Rute Mubeng Beteng yang dilaksanakan tahun ini dimulai dari Kamandungan Lor (Keben) menuju Ngabean ke Pojok Beteng Kulon, lalu melewati Jalan MT Haryono ke Pojok Beteng Wetan dilanjut ke Brigjen Katamso, kemudian Jalan Ibu Ruswo hingga Alun-alun Utara dan kembali lagi ke Keraton Yogyakarta.

Baca Juga: Mengenal Bubur Suro, Makanan Khas Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Tanah Jawa, Terinspirasi dari Kisah Nabi Nuh

Prosesi mengelilingi Keraton Yogyakarta ini merupakan bagian dari tirakat lampah ratri, yakni madrawa atau munajat yang bermakna berdoa sepenuh hati ke hadirat Allah SWT dengan berjalan mengikuti lintasan tertentu.

Tradisi Mubeng Beteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini terinspirasi dari perjalanan suci hijrah dari Mekah ke Madinah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Menyerupai thawaf dalam ibadah haji, prosesi lampah ratri pada tradisi Mubeng Beteng pun menggambarkan kesederhanaan dengan berkeliling Keraton Yogyakarta tanpa mengenakan alas kaki.

Baca Juga: 7 Tradisi Malam 1 Suro di Pulau Jawa, Ada Kirab Kebo Bule Keraton Solo hingga Tapa Bisu Keraton Yogyakarta 

Prosesi Mubeng Beteng ini mencerminkan perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang penuh keprihatinan dan penderitaan melintasi lautan pasir yang sangat panas tanpa menggunakan alas kaki saat hijrah dari Mekah ke Madinah.

Perjalanan hijrah Nabi Muhammad ini kemudian menjadi landasan peringatan tahun baru di Jawad an Nuswantara sebagai laku prihatin yang sangat berbeda pada peringatan tahun baru Masehi yang dirayakan dengan pesta pora.

Suasana yang khidmat, senyap dan sakral pada tradisi Mubeng Beteng ini juga bertujuan untuk merefleksikan diri selama satu tahun sebelumnya dan bermunajat agar diberi kelancaran dan keberkahan pada kehidupan tahun berikutnya.***

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Sumber: kebudayaan.jogjakota.go.id, Instagram @kratonjogja

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X