Di setiap langkahnya, bunga teratai mekar secara ajaib di bawah telapak kakinya, melindungi dan menandai kesucian kelahirannya.
Tujuh langkah ini melambangkan 7 arah kosmik sebagai simbol dari pencerahan dan perjalanan menuju Nirvana.
Setiap langkah mewakili perjalanan Buddha dari kebodohan menuju kebijaksanaan, dari ego menuju welas asih, dan dari kelahiran biasa menuju kehidupan sebagai Bodhisattva.
Oleh karena itu, bunga teratai dengan 7 kelopak atau lebih, identik dalam perayaan Waisak untuk mengenang momen kelahiran, pencerahan serta kebangkitannya.
Pada perayaan Waisak di Candi Mendut dan Borobudur, patung Buddha dihiasi dengan kalung bunga, dan umat mengelilingi dekorasi bunga teratai sebagai bentuk penghormatan.
Bunga teratai diletakkan pada altar dengan Buddha di atasnya yang digunakan dalam prosesi upacara keagamaan. Tampak patung Buddha bersinar dihiasi cahaya putih hingga merah muda yang melambangkan pencerahan.
Uniknya, warna teratai yang umumnya digunakan dalam dekorasi perayaan Waisak adalah putih dan merah muda yang merefleksikan makhluk tertinggi sang Buddha.
Bunga ini memiliki 5 warna yang punya makna berbeda. Bagi umat Buddha, bunga teratai putih melambangkan sifat Bodhi, yakni keadaan ketika mencapai kesempurnaan saat memeperoleh pencerahan.
Sementara itu, ada pula warna bunga teratai merah yang melambangkan welas asih, warna biru yang melambangkan kebijakan hingga warna ungu yang merefleksikan ajaran rahasia Sang Buddha Gautama.
Dalam beberapa tradisi di negara lain, patung Buddha kecil dimandikan dengan air yang telah dihiasi kelopak teratai, melambangkan pembersihan batin dan penghormatan atas kelahiran Buddha.
Sementara itu di Korea Selatan, lentera berbentuk teratai menjadi pusat perayaan, sementara di Sri Lanka, umat mengelilingi bunga teratai yang dianggap mengikuti ajaran dan jejak Buddha.
Simbolisme teratai tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga mengajarkan umat BUddha untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran.