Agar bisa bersekolah di Europese Lagere School (ELS), Soekiman diangkat anak oleh sahabat ayahnya, Van der Wal, pensiunan tentara Belanda yang menetap di Boyolali.
Setelah 7 tahun menempuh pendidikan di ELS, Soekiman Wirjosandjojo melanjutkan studinya ke STOVIA Jakarta dengan beasiswa dari Pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1923, Soekiman Wirjosandjojo melanjutkan studinya ke Belanda untuk mendalami ilmu kedokteran.
Kala itu ia telah menikah dengan Kustami, putri dari Dr. Keramat dan menetap di Yogyakarta.
Awal Karir Politik
Pada masa penjajahan Jepang, Soekiman Wirjosandjojo mulai terjun ke dunia politik.
Dikutip dari laman Litbang Kementrian Dalam Negeri, Soekiman Wirjosandjojo bersama sejumlah tokoh muslim lainnya mendirikan Masyumi.
Menjelang kemerdekaan, Soekiman terpilih menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Lalu pasca Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1948, namanya masuk ke dalam susunan kabinet Hatta sebagai Menteri Dalam Negeri.
Lalu pada kabinet Hatta kedua, ia dilantik menjadi Menteri Negara hingga akhirnya duduk di kursi Perdana Menteri pada 27 April 1951.
Saat menjabat sebagai Perdana Menteri itulah ia mencetuskan pemberian THR yang saat itu diberi nama ‘Hadiah Lebaran’.
Setahun kemudian, Soekirman harus melepaskan jabatan Perdana Menteri usai jatuhnya Kabinet Natsir.