SketsaNusantara.id - Di tengah ramainya gelombang demo penolakan RUU TNI yang dikhawatirkan akan membangkitkan Dwifungsi ABRI, muncul aksi damai yang malah mendukung kebijakan tersebut.
Sebagaimana diketahui suasana di sekitar Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, kian memanas seiring digelarnya aksi demonstrasi besar-besaran menolak pengesahan Revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI).
Ribuan mahasiswa, aktivis, dan elemen masyarakat sipil turun ke jalan untuk menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap kebijakan yang dianggap dapat mengembalikan dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), sebuah peran ganda militer yang telah dihapus pasca-Reformasi 1998 karena dianggap melemahkan supremasi sipil dan demokrasi.
Di sisi lain, munculnya aksi damai yang justru mendukung pengesahan RUU TNI memicu kontroversi dan memperkeruh situasi, hingga memecah belah opini publik.
Pada hari Kamis, 10 Maret 2025 pagi ini, Gedung DPR menjadi pusat perhatian publik dengan kehadiran massa demonstran yang menolak RUU TNI.
Tak hanya itu banyaknya foto bertuliskan "Tolak RUU TNI" dan "Kembalikan TNI ke Barak" beredar di media sosial, menegaskan bahwa revisi undang-undang ini berpotensi meluaskan peran militer ke ranah sipil, yang dianggap sebagai suatu kemunduran demokrasi.
Baca Juga: Tolak Pengesahan RUU TNI, Demonstran Dirikan Tenda dalam Aksi Pemblokiran Akses Masuk Gedung DPR RI
Kekhawatiran utama adalah perluasan jabatan sipil yang dapat diduduki prajurit aktif TNI, yang menurut para pengkritik akan membuka jalan bagi kembalinya dwifungsi ABRI seperti di era Orde Baru.
Untuk mengantisipasi aksi tersebut, aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah besar. Setidaknya 5.000 personel gabungan dari TNI dan Polri berjaga di sekitar kompleks parlemen.
Tak hanya personel TNI, beberapa peralatan Alutsista seperti truk militer, tank, dan bahkan water cannon ikut disiagakan di depan Gedung DPR RI untuk menghadang massa demonstran.
Keberadaan alat-alat berat ini menuai kritik dari masyarakat, yang mempertanyakan mengapa demonstrasi damai untuk menyampaikan aspirasi harus dihadapi dengan pendekatan yang terkesan berlebihan, seolah-olah sedang menghadapi situasi perang.
Menariknya, di tengah gelombang penolakan, muncul fenomena menarik yang menjadi sorotan publik, yakni aksi damai yang mendukung pengesahan RUU TNI.
Artikel Terkait
Sosok AH Nasution, Jenderal yang Lolos dari G30S PKI hingga Mencetuskan Konsep Dwifungsi ABRI Zaman Orde Baru
Kena Sentil Kader PSI, Fedi Nuril Beri Balasan Menohok Usai Disindir Tak Bisa Jadi Dirut PFN Karena Bukan Kader Partai: Bukti Prabowo Cuma Omon-Omon
KSAD Maruli Simanjuntak Sebut 'Dirty Vote' Tak Bernyali, Dandhy Laksono Tantang Menantu Luhut Debat Soal Revisi UU TNI hingga Dwifungsi Militer
Rapat RUU TNI Digelar Maraton di Hotel Berbintang, Fedi Nuril Beri Kritikan Menohok: Gua Gak Menemukan RUU TNI dalam Prolegnas Prioritas 2025
Siapa Mantan Istri Mayor Teddy? Cerai Sebelum Genap Satu Tahun Berumah Tangga, Kini Telah Menikah Lagi dengan Perwira TNI!
Setuju Revisi UU TNI, Aktivis Dandhy Laksono Sindir PKS dan PDIP: Partai yang Besar karena Reformasi 98 Tapi...