Seperti apa kisah Supriyadi yang pemimpin pemberontakan PETA hingga jadi Menteri Pertahanan?
Berikut ini SketsaNusantara.id rangkum perjalanan Shodancho Supriyadi, putra Bupati Blitar yang lahir di Trenggalek pada 13 April 1923.
Dikutip dari Buku Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno yang ditulis oleh Baskara Tulus Wardaya terbitan tahun 2008, Supriyadi mengganti namanya menjadi Andaryoko.
Namun, di beberapa sumber literasi lain menyebutkan bahwa Supriyadi pasca memimpin pemberontakan PETA hilang entah ke mana jejaknya.
Tak ada yang tahu apakah Supriyadi masih hidup, jadi tawanan tentara Jepang, atau sudah mati karena dieksekusi penjajah saat itu.
Di Buku Mencari Supriyadi dijelaskan bahwa setelah peristiwa pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi berhasil melarikan diri ke hutan.
Singkat cerita, supaya tidak dikenali Jepang, Supriyadi mengganti nama menjadi Andaryoko dan diam-diam kembali ke Jakarta untuk menemui Bung Karno.
Sosok Andaryoko yang mengaku Supriyadi ini selalu berada di sekitar Bung Karno hingga jelang Proklamasi Kemerdekaan RI.
Supriyadi yang memiliki latar belakang jadi tentara PETA, juga ikut dalam barisan para pemuda untuk mendesak Ir. Soekarno segera memproklamasikan Kemerdekaan RI.
Sampai akhirnya tiba, 17 Agustus 1945 proklamasi berhasil dibacakan dan pengibaran bendera merah putih dilaksanakan di depan rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Setelah memproklamirkan kemerdekaan, Bung Karno dan sejumlah tokoh berkumpul untuk berdiskusi merumuskan Undang-Undang Dasar negara.