jelajah

Bagongan: Bahasa Keraton Yogyakarta Berusia 7 Abad dan Hanya Punya 11 Kosakata, Benarkah Ciptaan Sultan Agung?

Sabtu, 6 Juli 2024 | 21:15 WIB
Mengenal asal usul Bahasa Bagongan (X/@kratonjogja)

Sementara itu, aturan perihal penggunaan Bahasa Bagongan di lingkup Kedhaton Keraton Yogyakarta baru ditetapkan pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Bahasa Kedaton atau yang lebih familiar disebut Bahasa Bagongan merupakan bahasa yang dipakai oleh Abdi Dalem di area Kedhaton dan tempat penugasan mereka.

Baca Juga: Kebo Bule Kyai Slamet jadi Tokoh Utama Tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta, Kenapa? Alasannya...

Penggunaan bahasa Bagongan tak lain adalah untuk menghilangkan kesenjangan satu sama lain dan menciptakan persatuan di antara penghuni keraton.

Bahasa Bagongan sendiri sejajar dengan bahasa krama Madya, namun ada beberapa kosakata yang berbeda.

Setidaknya ada 11 kosakata utama Bahasa Bagongan yang berbeda dengan bahasa Krama Madya.

Baca Juga: Punya Agama Sendiri, Inilah 3 Pedoman Hidup Suku Samin di Bojonegoro hingga Ada Hukum Berbicara, Pakai Bahasa Apa?

Namun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, ada satu kosakata yang tidak digunakan lagi, yaitu seyos (sanes atau lain).

Dan berikut ini 10 kosakata utama Bahasa Bagongan yang masih dipakai hingga saat ini.

1. Henggeh (hinggih): iya
2. Mboya (mboten): tidak
3. Menira (manira): saya
4. Pekenira (pekenira): anda
5. Penapi (punapi): apa
6. Peniki (punika/niki): ini
7. Peniku (puniku): itu
8. Wenten (wonten): ada
9. Nedha (suwawi/sumangga): silakan, mari
10. Besahos (kemawon/bae): saja***

Halaman:

Tags

Terkini