Saat itu, masyarakat Minang, Sumatera Barat sedang melakukan perjalanan ke Malaka hingga Singapura.
Mereka melakukan perjalanan menggunakan jalur air, yakni kapal laut sampai beberapa lama.
Masyarakat Sumatera Barat yang terlibat dalam perjalanan tersebut membawa bekal berupa rendang karena daging itu bisa bertahan lebih lama.
Selain itu, masyarakat Sumatera Barat, khususnya Minang juga sudah menggunakan rendang sejak upacara adat pertama diadakan hingga sekarang.
Perlu diketahui, bahwa filosofi dari kuliner tersebut adalah musyawarah dan mufakat.***