Hasil penjualan gabah tersebut berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 518 juta yang digunakan untuk membangun masjid baru.
Baca Juga: Jejak Ulama Cina Guru Sunan Kudus, Ada Legenda Masjid Tiban yang 'Turun dari Langit'
Masjid lama kini digunakan untuk pendidikan oleh Yayasan Al Baitul Amien, sementara masjid baru menjadi pusat ibadah.
Desain Masjid Jami' Al Baitul Amien, yang dijuluki "Masjid Jamur" atau "Masjid Keong" karena bentuknya yang setengah lingkaran, dirancang oleh arsitek non-Muslim Yaying K. Kesser dari Kanada, lulusan dari Universitas di California.
Berbeda dengan masjid tradisional Timur Tengah, kubahnya yang bundar menyerupai Gedung DPR/MPR RI, yang justru dibangun belakangan pada tahun 1965.
Bentuk Masjid Baitul Amien berbeda dari kebanyakan masjid di Pulau Jawa. Umumnya, masjid memiliki kubah atau atap tumpang di atas bangunan berbentuk persegi empat.
Namun, Masjid Baitul Amien justru mengusung desain setengah lingkaran yang unik.
Bentuk melengkung ini memiliki filosofi mendalam dari lingkaran melambangkan kebutuhan umat manusia yang tak terbatas sudut, mencerminkan kelapangan, keterbukaan, dan kesinambungan.
Masjid ini memiliki tujuh kubah yang terdiri dari lima kubah utama dan dua kubah kecil untuk wudhu.
Jumlah 7 kubah ini sebagai simbol kekuasaan Allah atas 7 lapis langit dan bumi. Angka ini juga mengadaptasi dari falsafah Jawa dari kata "pitulungan" yang berarti pertolongan.
Dalam ruang utama, terdapat 17 tiang penyangga melambangkan Nuzulul Quran yakni malam diturunkannya kitab suci Al Qur'an pada 17 Ramadan.
Satu menara, berwarna kuning keemasan, mencerminkan kesederhanaan dan fungsi sebagai penanda masjid.