Bukan hanya paman namun Pangeran Joyokusumo berperan sebagai penasehat Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa berlangsung.
Peran besar Pangeran Joyokusumo sebagai bagian pasukan Pangeran Diponegoro serta sebagai penasehat perang handal selama Perang Jawa membuat Pangeran Joyoksumo diburu Belanda.
Hingga pada suatu saat perang berlangsung di daerah Sengir dan Kelir, Pangeran Joyokusumo beserta dua putra dan 20 tentara pilihannya dikepung oleh pasukan Belanda.
Pasukan Ternate yang dipimpin oleh Kapten Koi saat itu meminta Pangeran Joyokusumo dan kedua putranya menyerahkan senjata keris yang mereka miliki.
Namun mereka menolak sehingga Belanda marah dan segera memerintahkan pasukannya untuk menghabisi Pangeran Joyokusumo dan kedua putranya serta seluruh pasukannya.
Setelah meninggal dunia, kepala Pangeran Joyokusumo dipancung dan kepalanya diletakkan di ujung bambu runcing sedangkan badan mereka dibuang ke jurang.
Hingga akhirnya salah satu Belanda mengenali bahwa kepala itu merupakan kepala dari Pangeran Joyokusumo dan kedua putranya, maka kepala itu kemudian dibawa ke Magelang agar disaksikan oleh jenderal de Kock untuk memastikan itu benar kepala Pangeran Joyokusumo.
Di Babad Kedung Kebo disebutkan bahwa yang memerintahkan memanggal kepala Pangeran Joyokusumo untuk dipancung kemudian ditaruh di ujung bambu runcing dan diserahkan pada Jenderal de Kock adakah Tumenggung Reso Diwiryo.
Tumenggung Reso Diwiryo rupanya dahulu merupakan teman seperguruan ketika di Sleman Yogyakarta. Namun kemudian pada perang jawa ia menjadi musuh Pangeran Diponegoro karena memihak kolonial.
Kepala Pangeran Joyokusumo kemudian dibawa ke keraton Yogyakarta dan dikuburkan di pemakaman Banyu Sumuro, sebuah pemakaman di daerah Imogiri untuk para bangsawan yang dituduh sebagai penghianat dinasti Mataram. Sementara tubuhnya dimakamkan oleh warga sekitar yang menemukannya.
Kematian Pangeran Joyokusumo tersebut sama sekali diluar sepengetahuan Pangeran Diponegoro.
Hingga diceritakan dalam Babad Diponegoro akhirnya Pangeran Diponegoro mengetahui kematian pamannya dari para panglima dan para prajurit saat sedang berkumpul dibawah pohon asam, dan ia tak menemukan pamannya.
Artikel Terkait
Sosok Tololiu Herman Willem Dotulong, Pernah Ukir Sejarah dalam Perlawanan Perang Diponegoro, Antek-Antek Belanda?
Makam Nyi Ageng Serang Ada di Mana? Putri dari Pangeran Natapraja dan Panglima Perang Diponegoro
Tetap Tangguh Walau Fisik Sudah Renta, Beginilah Kehebatan Nyi Ageng Serang dalam Perang Jawa Bersama dengan Pangeran Diponegoro
Taktik Supit Urang Pangeran Diponegoro Buat Jenderal De Kock dan Pasukan Belandanya Kewalahan
Asal-usul Margolunyu, Tameng Alam Pasukan Diponegoro: Jadi Strategi Jitu Melawan Tentara Belanda
Konon Dilindungi Kabut Gaib, Benteng Pangeran Diponegoro di Margolunyu Kebumen Masih Ada Sampai Sekarang?