SketsaNusantara.id – Nyi Ageng Serang adalah seorang putri dari Pangeran Natapraja yang merupakan penguasa dari Serang, Jawa Tengah.
Selain itu, Pangeran Natapraja merupakan Panglima Perang Sultan Hamengku Buwono I.
Nyi Ageng Serang memiliki nama asli RA Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi dan diketahui mempunyai keturunan Sunan Kalijaga dan mempunyai cucu yang kini dikenal oleh semua orang yang bernama Ki Hajar Dewantara.
Pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang menjadi panglima perang Diponegoro yang memiliki tugas untuk memimpin pasukan dengan tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda serta menjadi penasihat perang.
Ia berjuang di berbagai daerah seperti Semarang, Purwodadi, Demak, Juwana, Kudus dan Rembang.
Sebagaimana yang telah dilansir oleh SketsaNusantara.id dari budaya.jogjaprov.go.id, ia pernah mengikuti pelatihan militer dan siasat perang bersama prajurit pria.
Nyi Ageng Serang memiliki keyakinan bahwa selama ada penjajahan di bumi pertiwi, ia harus siap tempur.
Strategi dalam perang yang dipakai adalah lembu (daun talas hijau) untuk penyamaran.
Pada saat gerilya di Desa Beku, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakart, Ia menjadi pemimpin pada saat itu, ia mendekati Yogyakarta atas permintaan Diponegoro dan memiliki markas di Prambanan.
Dengan demikian, ia memiliki hubungan langsung dengan kraton dan bisa memberikan nasehat kepada Sultan Sepuh atau dikenal Sultan Hamengku Buwono II.
Nyi Ageng Serang wafat 1838 dan lokasinya makamnya berada di Dusun Beku, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang yang berada di puncak sebuah bukit yang berada di Dusun Beku.***
Artikel Terkait
Sosok Tololiu Herman Willem Dotulong, Pernah Ukir Sejarah dalam Perlawanan Perang Diponegoro, Antek-Antek Belanda?
Kisah Raden Ario Majang Koro: Orang Madura Pertama yang Jadi Kolonel Hindia Belanda, Ternyata Dulunya Punya Kehidupan Seperti Ini...
Siapa Sosok Jesajas Pongoh? Salah Satu Serdadu Asal Manado yang Berhasil Melumpuhkan Sisingamangaraja XII
Apa Itu Geger Sepoy? Kisah Tragis Kraton Yogyakarta yang Legendaris, Konon karena Upaya Diplomasi yang Gagal
Akhir Tragis Kapten Tack VOC dan Raden Trunojoyo, Benarkah Karena Kutukan Mahkota Majapahit?
Dulunya Selalu Diarak saat Idul Adha, Kerangka Hewan dari Keraton Yogyakarta Ini Sekarang Ada di UGM
Pondok Pesantren Tertua Kedua di Indonesia Ada di Semarang, Miliki Mushola Markas Medan Barat