Setelah umurnya menginjak 18 tahun, ia diberi nama kebangsawanan sebagai Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram.
Menurut sejarahnya, Ki Ageng Suryomentaram dikatakan sebagai pangeran Kesultanan Yogyakarta yang memilih untuk menjadi rakyat jelata.
Hal tersebut dilakukannya, lantaran hatinya yang tersentuh ketika melihat beban hidup para petani yang begitu berat pada zaman itu, pandangannya datang seusai Ki Ageng Suryomentaram melihat aktivitas petani di sawah.
Pada awalnya Ki Ageng Suryomentaram memiliki gelar Pangeran Surya Mataram, namun setelah menanggalkan gelarnya tersebut, ia secara resmi mengumumkan dirinya sebagai Ki Ageng Suryomentaram.
Diceritakan, Ki Ageng Suryomentaram kerap keluar masuk istana untuk mencari ilmu dengan bersemedi di tempat yang biasa dikunjungi para leluhurnya seperti Gua Langse, Gua Semin dan Parangtritis.
Hingga pada akhirnya, Ki Ageng Suryomentaram keluar istana dengan waktu yang lama untuk mengembara di daerah Kroya, Purworejo.
Selama berada di Kroya Purworejo, Ki Ageng Suryomentaram bekerja serabutan seperti menjadi pedagang batik pikulan, petani hingga kuli.
Kepergian Ki Ageng Suryomentaram ternyata telah didengar oleh ayahnya, Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Dilakukan proses pencarian Ki Ageng Suryomentaram, Sri Sultan Hamengkubuwono VII menyuruh utusan yakni Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo dan R.L. Mangkudigdoyo.
Singkat cerita, Ki Ageng Suryomentaram ditemukan oleh utusan istana saat sedang bekerja menggali sumur dengan memakai nama samaran Natadangsa.
Setelah kembali ke Istana, hidup Ki Ageng Suryomentaram dilanda kegelisahan besar mulai dari kakeknya Patih Danurejo VI yang dibebaskan dari tugasnya, ibundanya yang dikembalikan kepada kakeknya, dan istri Ki Ageng Suryomentaram meninggal dunia.
Kemudian Ki Ageng Suryomentaram dengan lapang dada melepaskan kedudukan kebangsawanannya untuk hidup menjadi rakyat biasa.
Artikel Terkait
Asal Usul Nama Prawiro, Dulu Jadi Gelar, Kini Banyak Dipakai di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Trah Terbanyak di Jawa?
Tumenggung Sumodiningrat, Singo Barong Yogyakarta, Ulama Tanah Jawa yang Mulai Terlupa, Mati Mengenaskan di Tangan Lawan
Ada Makam Raja Cirebon di Jogja: Sejarah Panembahan Girilaya yang Jadi Tahanan Mertuanya di Yogyakarta
Pesanggrahan Ambarukmo Yogyakarta, Tempat Ikonik Sultan Hamengkubuwono VII Mandheg Pandhito, Disebut Sebagai Tempat Kutukan Sultan?
Naik Tahta Sejak Usia 3 Tahun, Mengenal Sosok Raja Yogyakarta yang Masa Kepemimpinannya Penuh Drama hingga Dianggap Tunduk pada Belanda