SketsaNusantara.id - Beberapa orang tentu mengenal tentang Kawruh Jiwa yang merupakan ilmu tentang kebahagiaan.
Kawruh Jiwa (science of the psyche/Self-knowledge) atau ilmu tentang kebahagiaan diambil dari naskah-naskah seorang ahli filsuf yang kita kenal sebagai Ki Ageng Suryomentaram.
Merujuk pada laman openlibrary.telkomuniversity.ac.id, dikatakan Ki Ageng Suryomentaram selama 40 tahun lebih meneliti tentang kedalaman "rasa".
Baca Juga: Amalan Penyembuh Asam Lambung dari Ustadz Dhanu, Bacalah Doa Ini agar Diberikan Kesembuhan
Hingga pada akhirnya, ia melahirkan pengetahuan yang jernih untuk memahami manusia yang apa adanya dan menuntun sesamanya agar sanggup memahami rasa dalam dirinya sendiri dan orang lain tanpa balutan citra.
Selain itu, pengetahuan akan ikhlas berdamai dengan segala hal tanpa penghakiman dan mengerti hakikat pengabdian kepada Tuhan yang Maha Esa.
Seluruh pengetahuannya tertuang dalam lembaran naskah yang kemudian disatukan menjadi Kawruh Jiwa.
Namun, siapa sebenarnya Ki Ageng Suryomentaram yang berhasil membuat ilmu jiwa Nusantara Kawruh Jiwa?
Dikutip SketsaNusantara.id dari p2k.stekom.ac.id, Ki Ageng Suryomentaram merupakan putra dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo yang lahir pada 20 Mei 1892.
Dengan kata lain, Ki Ageng Suryomentaram merupakan seorang pangeran di Kesultanan Yogyakarta.
Ki Ageng Suryomentaram memiliki nama bangsawan Bendoro Raden Mas (BRM) Kudiarmadji.
Artikel Terkait
Asal Usul Nama Prawiro, Dulu Jadi Gelar, Kini Banyak Dipakai di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Trah Terbanyak di Jawa?
Tumenggung Sumodiningrat, Singo Barong Yogyakarta, Ulama Tanah Jawa yang Mulai Terlupa, Mati Mengenaskan di Tangan Lawan
Ada Makam Raja Cirebon di Jogja: Sejarah Panembahan Girilaya yang Jadi Tahanan Mertuanya di Yogyakarta
Pesanggrahan Ambarukmo Yogyakarta, Tempat Ikonik Sultan Hamengkubuwono VII Mandheg Pandhito, Disebut Sebagai Tempat Kutukan Sultan?
Naik Tahta Sejak Usia 3 Tahun, Mengenal Sosok Raja Yogyakarta yang Masa Kepemimpinannya Penuh Drama hingga Dianggap Tunduk pada Belanda