Terbiasa dengan padang rumput luas dan medan pertempuran terbuka, pasukan Mongol merasa kewalahan di hutan belantara dan iklim lembap Jawa.
Selain itu, mereka dihadapkan pada musuh yang cerdik, Raden Wijaya.
Raden Wijaya yang sebelumnya mencari bantuan Mongol untuk menggulingkan rivalnya, Jayakatwang, dengan imbalan tunduk secara nominal pada otoritas Mongol.
Namun, Raden Wijaya memiliki rencana lain dengan memanfaatkan pengetahuannya yang mendalam tentang geografi Jawa dan kelemahan pasukan Mongol, ia merencanakan sebuah tipu muslihat.
Berpura-pura tunduk, Raden Wijaya secara strategis mundur, mengatur ulang pasukannya, dan melancarkan serangan mendadak pada kamp Mongol yang tidak curiga di Sungai Brantas.
Dalam pertempuran yang menentukan, pasukan Mongol terkejut dan menderita kerugian besar.
Penyakit tropis, medan yang tidak dikenal, dan kurangnya dukungan lokal semakin mempersulit situasi mereka.
Setelah konflik singkat namun intens selama empat bulan, pasukan ekspedisi Mongol mundur, meninggalkan ribuan tentara dan ambisi yang tidak terpenuhi.
Ekspedisi ini menjadi momen penting dalam sejarah Mongol, menunjukkan batas kekuatan militer mereka di tanah yang tidak dikenal.
Ini juga menegaskan ketahanan dan kecerdasan taktis para penguasa Jawa, yang berhasil membela tanah air mereka dari penyerang asing yang tangguh.
Meskipun mengalami kekalahan, Mongol berhasil meraih sejumlah barang rampasan, termasuk logam mulia, rempah-rempah, dan intelijen berharga mengenai pentingnya strategis Jawa.
Namun, ekspedisi gagal ke Jawa tetap menjadi pengingat akan bahaya meremehkan pengetahuan lokal dan tantangan lingkungan dalam kampanye militer.
Saat Kekaisaran Mongol mundur, Kerajaan Singhasari di bawah kepemimpinan Raden Wijaya akhirnya berkembang menjadi Kekaisaran Majapahit, menandai babak baru dalam sejarah Asia Tenggara.
Artikel Terkait
Perdebatan Kisah Sultan Agung Mataram Islam, Benarkah Raja Jawa Pertama yang Menerima Gelar Sultan dari Mekkah?
Kejawen dan Jejak Sultan Agung dalam Pembentukan Islam-Jawa hingga Tradisi dan Ritual yang Masih Dilakukan
Dari Kerajaan yang Besar di Jawa Hingga Terpecah: Silsilah Raja-raja Dinasti Mataram Islam
Sering Dianggap Sepele, Makanan Rakyat Sejak Zaman Jawa Kuno Ini Justru Diajukan ke Unesco Sebagai Warisan Budaya
Ikan Titisan Dewa! Yuk Liburan ke Candi Rambut Monte Blitar Jawa Timur, Peninggalan Masa Kerajaan Majapahit, Boleh Berenang?