SketsaNusantara.id - Pada abad ke-13, Kekaisaran Mongol yang perkasa, dikenal karena keganasannya dalam penaklukan di Eurasia, menghadapi kegagalan yang memalukan di tanah tropis Jawa.
Sejarah ini berawal ketika Kublai Khan, pemimpin kuat Dinasti Yuan, melihat potensi sumber daya yang kaya dan posisi strategis Jawa, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Sepulang Sekolah.
Jawa, yang dikuasai oleh Kerajaan Singhasari di bawah Kertanegara, telah lama menjadi pusat perdagangan dan budaya di Asia Tenggara.
Mengakui pentingnya Jawa, Kublai Khan mengirim beberapa utusan, mendesak Kertanegara untuk tunduk pada otoritas Mongol.
Namun, Kertanegara yang dikenal karena keteguhannya dan visi strategisnya untuk memperluas pengaruhnya di wilayah tersebut, secara berulang kali menolak tuntutan ini.
Titik balik terjadi ketika utusan Mongol disambut dengan sikap permusuhan dan penolakan yang tegas dari istana Kertanegara.
Baca Juga: Makam Sunan Muria: Hanya Buka Hari-hari Tertentu dan Letaknya Jauh di Atas Gunung?
Dalam tindakan menantang, Kertanegara tidak hanya menolak tuntutan Mongol tetapi juga menghina utusan mereka, tindakan yang kemudian memicu kemarahan Kublai Khan.
Sebagai balasan, Kublai Khan mengumpulkan sebuah armada besar dengan 1.000 kapal dan 20.000 pasukan, yang dipimpin oleh jenderal-jenderal berpengalaman seperti Khubilai Jikmis dan Shibi.
Mendarat di pantai Jawa pada Maret 1293, Mongol berusaha membalas dendam dan menegakkan dominasi mereka atas Kerajaan Singhasari yang tangguh.
Baca Juga: Nama Asli Sunan Gresik, Salah Satu Wali Songo dengan Panggilan Makhdum Ibrahim Al-Samarqandi
Namun, tanah dan iklim Jawa ternyata menjadi hambatan yang sulit bagi Mongol.
Artikel Terkait
Perdebatan Kisah Sultan Agung Mataram Islam, Benarkah Raja Jawa Pertama yang Menerima Gelar Sultan dari Mekkah?
Kejawen dan Jejak Sultan Agung dalam Pembentukan Islam-Jawa hingga Tradisi dan Ritual yang Masih Dilakukan
Dari Kerajaan yang Besar di Jawa Hingga Terpecah: Silsilah Raja-raja Dinasti Mataram Islam
Sering Dianggap Sepele, Makanan Rakyat Sejak Zaman Jawa Kuno Ini Justru Diajukan ke Unesco Sebagai Warisan Budaya
Ikan Titisan Dewa! Yuk Liburan ke Candi Rambut Monte Blitar Jawa Timur, Peninggalan Masa Kerajaan Majapahit, Boleh Berenang?