SketsaNusantara.id- Pada abad ke-16, Kerajaan Mataram Islam berdiri di Jawa setelah kejatuhan Mataram Hindu.
Raden Mas Rangsang, atau Sultan Agung, naik tahta pada 1613, menggantikan adiknya.
Meskipun secara teknis Sultan keempat, dia dianggap Sultan ketiga karena adiknya hanya sehari menjadi Sultan.
Sultan Agung menaklukkan Madura pada 1624 dan mengonsolidasikan kekuasaannya di Jawa.
Dia juga berusaha menyaingi pengaruh Belanda di Batavia, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube JinggLang Channel.
Pada tahun 1613, Pangeran Rangsang naik takhta di Mataram, meskipun pada waktu itu belum menggunakan gelar sultan.
Setelah menjadi Prabu Anyokrokusumo, ia dikenal di naskah Belanda sebagai Sunan atau Susuhunan, sementara Surat-surat Kompeni menyebutnya Ratu.
Meskipun ditawari gelar Ratu Mataram pada tahun 1936 oleh Panembahan Cirebon, Prabu Anyokrokusumo menolaknya.
Baca Juga: Candi di Prigen Ini Merupakan Perpaduan Hindu-Buddha, Tempat Pendharmaan Salah Satu Raja Singasari
Pada tahun 1638, Raja Banten memperoleh gelar sultan dan bendera dari Makkah, yang menimbulkan keinginan dari Raja Mataram untuk juga mendapatkan gelar serupa.
Mendengar hal tersebut, Mataram menuntut agar gelar tersebut diberikan kepada mereka.
Upaya ini terwujud pada November 1640, ketika kedatangan kapal Inggris yang dinantikan di Banten membawa orang Jawa yang telah diantar ke Makkah.
Utusan Jawa telah diutus oleh Mataram untuk bertemu dengan orang Inggris di Banten pada Oktober 1638.
Artikel Terkait
Dicap Anak Durhaka, Benarkah Raja Kerajaan Demak, Raden Patah, yang Menyerang Majapahit, Kerajaan Ayahnya?
Punya Karomah Mengubah Pena Menjadi Keris, Sunan ini Menyandang Gelar Guru Raja-Raja Nusantara hingga Dijuluki Paus-nya Jawa
Kena Prank Mertua, Kisah Ki Ageng Mangir, Keturunan Raja Majapahit yang Dibunuh Saudara Sendiri
Gayatri Rajapatni, Si Bungsu Terkasih Putri Raja Kertanegara, Simbol Kekuatan Krusial Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit
Punya Julukan 'Pangeran'? Inilah Nama Asli Sunan Ampel, Wali Songo Berdarah Biru, Keponakan Raja Majapahit
Berani Menolak Pinangan Karena Menganggap Politis, Ratu Tanah Jawa ini Nyaris Diserang Raja Sriwijaya