Ia membangun istana baru di Kartasura. Setelah Amangkurat II wafat, adiknya, Pangeran Puger, mengambil alih kekuasaan dan bergelar Pakubuwono I.
Pada masa inilah Mataram mulai terbagi.
Pada tahun 1755, terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua.
Baca Juga: Wisata Gratis di Gresik, Cocok Banget untuk Menenangkan Pikiran dengan Rindangnya Mangrove
Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwono III dan Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I.
Pada tahun 1757, Perjanjian Salatiga membentuk Kadipaten Mangkunegaran yang dipimpin oleh Mangkunegoro I.
Pakualaman, yang terbentuk pada tahun 1813, dipimpin oleh Pakualam I.
Dinasti Mataram telah melalui perjalanan sejarah yang panjang, penuh dengan intrik dan perubahan.
Pembagian menjadi empat kerajaan ini mencerminkan dinamika politik dan sosial yang terjadi sepanjang sejarah Mataram.
Setiap kerajaan memiliki kontribusi penting dalam sejarah dan budaya Indonesia.***
Artikel Terkait
Nganjuk Mendadak Jadi Destinasi Wisata Religi di Bulan Suro, Lokasi Ini Ramai Dikunjungi Peziarah Meski Letaknya Ada di Ketinggian
Ritual Mistis Grebeg Suro di Hutan Bambu Lumajang, Ada Prosesi Khusus untuk Pengharapan Agar Sumber Air Tetap Mengalir
7 Tradisi Malam 1 Suro di Pulau Jawa, Ada Kirab Kebo Bule Keraton Solo hingga Tapa Bisu Keraton Yogyakarta
Dijamin Gak Bakal Bosen, Cuma di Fakfak, Papua Barat Kamu Bisa Nikmatin Air Terjun Langsung ke Lautan!
Kepala Desa Wajib Nikah 1 Tahun Sekali, Tradisi Unik Malam 1 Suro Warga Temanggung, Konon Bikin Awet Muda
Kalender Jawa: Penanggalan Paling Rumit di Dunia Peninggalan Sultan Agung, Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Ada Sejak 200 Masehi, Air Pemukiman Kuno di Temanggung Jadi Rebutan Warga di Malam 1 Suro, Sunan Kalijaga Pernah ke Sini
Mengenal Bubur Suro, Makanan Khas Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Tanah Jawa, Terinspirasi dari Kisah Nabi Nuh
Kebo Bule Kyai Slamet jadi Tokoh Utama Tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta, Kenapa? Alasannya...