Sabtu, 22 Agustus 2026

Sederet Fakta Sungai Barito yang Kini Mengering Bak Gurun Pasir: Salah Satu Sungai Terpanjang yang Jadi Jalur Transportasi Vital di Kalimantan

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11 WIB
Potret kondisi Sungai Barito, bawah Jembatan Desa Kalahien di Kalimantan Tengah yang mengalami kekeringan parah hingga dasar sungai terlihat seperti gurun pasir (Instagram/balikpapankuu)
Potret kondisi Sungai Barito, bawah Jembatan Desa Kalahien di Kalimantan Tengah yang mengalami kekeringan parah hingga dasar sungai terlihat seperti gurun pasir (Instagram/balikpapankuu)

3. Fenomena 'Gosong Pasir' 

Saat musim kemarau ekstrem, debit airnya turun drastis hingga muncul endapan pasir luas di tengah hingga tepi sungai, atau yang biasa disebut 'gosong pasir'.

Fenomena ini belakangan menjadi sorotan publik dan terlihat seperti gurun pasir yang kering di bawah Jembatan Kalahien. Sejak bulan Agustus 2026, debit air sungai menyusut drastis yang membuat transportasi air terganggu.

4. Dilewati Jembatan Barito yang Ikonik

Membentang di atas sungai ini terdapat Jembatan Barito sepanjang 1.082 meter.

Saat diresmikan pada tahun 1997, jembatan Barito sempat memegang rekor sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Indonesia yang menghubungkan Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

5. Habitat Satwa Langka

Salah satu hal yang tak kalah menarik perhatian adalah kawasan konservasi seperti Pulau Bakut yang menjadi habitat bagi satwa langka seperti monyet berhidung panjang atau bekantan.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Barito juga menjadi habitat penting bagi satwa endemik Borneo, seperti lumba-lumba air tawar atau pesut Mahakam, serta berbagai jenis ikan air tawar bernilai tinggi seperti ikan patin dan jelawat.

Itulah beberapa fakta menarik terkait Sungai Barito yang belakangan ini menyita perhatian publik karena terlihat bak gurun pasir, akibat dampak kekeringan parah di Kalimantan.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah mengalami hujan di bawah normal dengan kondisi paling kering pada bulan Agustus hingga September 2026.

Menyusutnya debit air di Sungai Barito kerap terjadi sebagai dampak nyata kerusakan ekologis akibat fenomena "El Nino Godzilla 2026.

Aktivis peduli lingkungan seperti Walhi pun mendesak pemerintah segera mengambil langkah untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Pasalnya, fenomena pemanasan suhu muka laut super kuat di tahun ini menimbulkan perubahan cuaca ekstrem yang memicu kemarau panjang, suhu udara panas terik, krisis air bersih, serta peningkatan drastis risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Mila Zhely Nurul Hidayah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X