Jumat, 21 Agustus 2026

Sambut Muktamar Ke 35 NU, Museum KH Hasyim Asy'ari Gelar Tadarus Naskah Nusantara

Photo Author
- Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Narasumber sedang menyampaikan materinya. (As'ad Choirudin/SketsaNusantara.id)
Narasumber sedang menyampaikan materinya. (As'ad Choirudin/SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Muktamar ke 35 NU di Tambakberas, Jombang disambut berbagai diskusi oleh banyak pihak. Salah satunya Museum KH Hasyim Asy'ari Tebuireng yang menggelar Tadarus Naskah Nusantara (Tanara), Kamis 20 Agustus 2026. Acara ini bertema Pesantren sebagai Skriptorium: Tradisi Penulisan dan Penyalinan Manuskrip Keislaman Nusantara.

Hadir sebagai narasumber Jergian Jodi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Mohammad Anang Firdaus, Wakil Mudir Ma'had Aly Tebuireng. Acara diikuti 60 peserta terpilih.

Kepala Unit Museum Indonesia KH. Hasyim Asy'ari, Mujiburrahman, mengakui tujuan acara TANARA ini sebagai edukasi tentang pentingnya perhatian terhadap peninggalan naskah kuno. "Terutama di era digital ini," ujarnya.

Baca Juga: Semarakkan Muktamar ke 35 NU, Berikut Beragam Kegiatan Disuguhkan PW ISNU Jatim

Hal senada disampaikan Ari Setiawan, humas Museum Indonesia KH. Hasyim Asy'ari. Dirinya berharap kegiatan ini dapat mengedukasi masyarakat terhadap sejarah. "Serta meningkatkan minat masyarakat untuk belajar sejarah dan berkunjung ke museum," tambahnya.

Saat menyampaikan materi, Jergian Jordi, menyampaikan skriptorium merupakan tempat penulisan, penyalinan, dan penyimpanan naskah kuno. "Ini memerlukan cakupan kodikologi untuk menelusuri, mengungkapbdan, mengidentifikasi aktivitas penulisan naskah di suatu daerah," katanya.

Skriptorium baginya tidak hanya dilakukan di daerah-daerah. Namun, sambungnya, juga juga dapat lakukan di pesantren. "Ini bertujuan menjaga dan merawat tradisi, kebiasaan, dan adat baik yang ada," katanya.

Pendekatan dalam skriptorium, lanjutnya, menggunakan pendekatan kultural, bukan dengan pemaksaan. Ia menjelaskan, penelitian juga tidak dilakukan sekali dua kali saja, namun beberapa kali hingga dihasilkan penelitian yang dikehendaki.

Baca Juga: Mewujudkan Indonesia Darus Salam

"Adapun manfaat skriptorium yakni menjadikan tulisan dan peninggalan terdahulu dapat dipahami, sehingga bisa dilestarikan hingga sekarang," imbuhnya.

Mohamad Anang Firdaus, dalam paparannya menyampaikan, skriptorium di pesantren ada pada kitab-kitab peninggalan para kiai. "Kesulitan dalam skriptorium kitab-kitab adalah tulisan yang kadang belum jelas, jenis khot yang sulit terbaca. Namun dengan kegiatan ini, sanad keilmuan menjadi terjaga," ucapnya.

Dia lalu menunjukkan kitab Manhaj Dzawinnadhor karya Kiai Mahfudz Termas milik ayahnya. Kitab ini ditulis selama empat bulan dan diselesaikan di Makkah.

Baca Juga: Muhammadiyah Jombang Siapkan Kokam, Bakso-Kopi Gratis hingga Layanan Kesehatan di Muktamar ke-35 NU

"Kitab ini juga menjadi salah satu kitab yang dipelajari KH Hasyim Asy'ari. Kemampuan ini tentu juga karna kebiasaan penulisan yang ada di pesantren," ucapnya.

Halaman:

Editor: As'ad Choirudin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X