Minggu, 14 Juni 2026

Bukan Kerbau Biasa, Ini Asal Usul Kebo Bule yang Menjadi Ikon Kirab 1 Suro Keraton Surakarta, ‘Pengawal Pusaka kyai Slamet’

Photo Author
Siti Nurlaela Hanifah, Sketsa Nusantara
- Minggu, 14 Juni 2026 | 07:00 WIB
Potret Kebo Bule Kyai Slamet dalam tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta. (Instagram.com/@kraton_solo)
Potret Kebo Bule Kyai Slamet dalam tradisi Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta. (Instagram.com/@kraton_solo)

Baca Juga: Apa Itu Barikan? Mengenal Tradisi Malam 1 Suro yang Masih Eksis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Asal Namanya dari Bahasa Arab

Berasal dari Hadiah 

Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, asal-usul Kebo Bule Kyai Slamet berkaitan dengan hadiah dari Kyai Hasan Beshari Ponorogo kepada Sunan Pakubuwono II pada abad ke-18.

Dalam Babad Solo karya RM Sajid, leluhur kebo bule adalah hewan kesayangan Paku Buwono II.

Keturunan kerbau tersebut kemudian dipelihara oleh Keraton Surakarta hingga sekarang.

Dari generasi ke generasi, keturunan kebo bule terus dirawat dan menjadi bagian dari berbagai upacara adat keraton.

Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, masyarakat Jawa meyakini Kebo Bule Kyai Slamet sebagai simbol keselamatan, ketenteraman dan keberkahan yang menyertai kehidupan masyarakat.

Baca Juga: 4 Ritual dan Tradisi Sakral di Bulan Suro, Ada Selamatan Khusus Selama Seminggu hingga Melarung Sesaji

Selalu Memimpin Kirab 1 Suro

Dalam Kirab Malam 1 Suro, Kebo Bule Kyai Slamet berjalan paling depan sebelum barisan pusaka dan para abdi dalem keraton.

Kebo bule rupanya memiliki ‘tugas’ sebagai pengawal atau cucuk lampah dari pusaka keraton, Kyai Slamet.

Kendati demikian, pihak Keratn tidak pernah menjelaskan bentuk pusaka Kyai Slamet itu.

Baca Juga: 6 Tradisi Malam 1 Suro Masyarakat Jawa: Ada Pawai Obor hingga Kirab Kebo Bule Keraton Surakarta, di Tatar Sunda Lakukan Ini

Saat prosesi kirab, ribuan warga biasanya memadati jalur untuk menyaksikan kemunculan kebo bule yang menjadi ikon tradisi tersebut.

Tak sedikit masyarakat yang berusaha mendekat atau mengikuti jalur yang dilalui kerbau tersebut karena dipercaya membawa keberuntungan.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X