Kamis, 4 Juni 2026

Di Balik Lawakan Ludruk Jawa Timur, Ada Nilai Islam yang Disampaikan Lewat Cerita, Musik, dan Dialog

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 1 Februari 2026 | 18:30 WIB
Kesenian ludruk kebanggaan masyarakat Jawa Timur. (uns.ac.id)
Kesenian ludruk kebanggaan masyarakat Jawa Timur. (uns.ac.id)

SketsaNusantara.id - Ludruk merupakan salah satu kesenian rakyat yang berkembang di Jawa Timur.

Seni pertunjukan ini dikenal luas sebagai hiburan masyarakat. Ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat.

Dalam pementasannya, ludruk tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Kesenian ini juga memuat pesan sosial dan nilai kehidupan. Beberapa unsur ajaran Islam tersisip di dalam cerita.

Baca Juga: Mengenang Hilangnya Ludruk Pak Sabar Kalisat, Misteri di Tengah Gejolak Peristiwa Kelam pada Tahun 1965

Dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @penais.kemenag dan @syiarbudayaislam, ludruk berasal dari kata gedruk yang berarti menghentakkan kaki. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Timur. Wilayah Surabaya menjadi salah satu pusat perkembangannya.

Cerita ludruk banyak mengangkat kehidupan rakyat kecil. Kisah-kisah tersebut disampaikan secara ringan dan komunikatif. Unsur humor menjadi ciri utama pertunjukan ini.

Ludruk mengalami perkembangan pesat pada periode 1920 hingga 1930. Pada masa itu, dialog dan alur cerita mulai terbentuk jelas. Bentuk pementasan pun semakin terstruktur.

Baca Juga: Muda Mudi Mudo Vol.2: Layers, Ruang Utopia dan Folks dari Seniman Muda Dewan Kesenian Kampus Universitas Jember

Struktur pementasan ludruk diawali dengan pembukaan. Bagian pembuka biasanya menampilkan atraksi tari ngrema. Tarian ini berfungsi menarik perhatian penonton.

Setelah pembukaan, pertunjukan berlanjut ke atraksi bedayan. Pada bagian ini, tampil beberapa travesti dengan gerakan ringan. Adegan tersebut disertai interaksi dengan penonton.

Pementasan kemudian memasuki adegan lawak. Seorang pelawak tampil menyampaikan humor. Lawakan ini sering diselingi dialog ringan dan sindiran sosial.

Bagian inti pertunjukan adalah penyajian lakon. Lakon dibagi ke dalam beberapa babak. Setiap babak terdiri atas beberapa adegan yang saling berkaitan.

Dalam pertunjukan ludruk, musik memegang peranan penting. Alat musik yang digunakan cukup beragam. Beberapa di antaranya adalah boning saron, gambang gender, dan slentem.

Selain itu, digunakan pula siter dan seruling. Alat musik ritmis seperti ketuk dan kenong turut mengiringi. Kempul dan gong menjadi penanda pergantian bagian pertunjukan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Instagram @syiarbudayaislam

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X