SketsaNusantara.id - Kesenian tradisional di Indonesia selalu memiliki ciri khas dan keunikan yang berbeda dari satu dan lainnya.
Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya, termasuk kesenian tradisional.
Salah satu kesenian tradisional yang dimiliki oleh provinsi yang beribukota di Kota Surabaya ini adalah Tari Glipang.
Tari Glipang adalah kesenian tradisional khas milik Kabupaten Probolinggo yang telah berumur lebih dari 100 tahun dan diakui oleh pemerintah sebagai warisan budaya takbenda.
Mulai berkembang pada tahun 1920, Tari Glipang diperkenalkan oleh seorang tokoh bernama Sandari di Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar.
Tidak hanya sekadar tarian tradisional biasa, Tari Glipang memiliki sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: Mengenal Tari Srimpi Pramugari, Tarian Simbol Perlawanan Sultan Hamengkubuwono I Melawan Penjajah
Berikut 5 fakta tentang Tari Glipang yang menarik untuk diketahui.
1. Berasal dari Kebudayaan Madura
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Tari Glipang memiliki latar belakang kebudayaan yang berasal dari budaya Madura.
Latar belakang tersebut tidak terlepas dari migrasi masyarakat Madura ke pulau Jawa khususnya Probolinggo dan melahirkan budaya akulturasi antara Jawa dan Madura.
Salah seorang tokoh bernama Sandari berusaha memperkenalkan kesenian Madura yakni Tari Topeng Gethak yang merupakan cikal bakal Tari Glipang.
Artikel Terkait
Dikenal Sebagai Tarian Tanpa Pengiring Musik, Inilah Sejarah dan Keunikan Tari Kecak Dari Bali
Pesona 1000 Patung, Cuma Ada di Banyuwangi! Wisata Paling Autentik Ini Surganya Tari Gandrung
Makin Ciamik Diunggah ke Media Sosial, Ayo Download 10 Link Poster dengan Desain Menarik dan Elegan untuk Sambut Hari Tari Sedunia 29 April 2025!
Besok Banget Nih, Apa Sejarah Hari Tari Sedunia? Membongkar Teka-Teki di Balik Tanggal 29 April Untuk Hari Penting Peringatan Karya Seni Terindah
5 Fakta Unik Gambang Kromong, Kesenian Tradisional Betawi dengan Unsur Budaya Tionghoa, Sunda, dan Jawa, Lestari hingga Kini