2. Asal-Usul Nama dari Bahasa Arab
Nama Tari Glipang berasal dari bahasa Arab yakni Gholiban yang berarti kemenangan.
Dalam perkembangannya berubah penyebutan menjadi Glipang karena logat masyarakat setempat yang kesulitan menyebutkan nama aslinya.
Nama Gholiban digunakan dengan maksud menanamkan pemahaman kepada masyarakat Pendil untuk berani merebut kemenangan dari penjajahan kolonial Belanda.
3. Berawal dari Kegiatan Pencak Silat
Tari Glipang tidak terlepas perkembangannya dari seorang tokoh bernama Sari Turno yang merupakan putra dari Sandari.
Pada awal penciptaan Tari Glipang, Sari Turno bekerja di Pabrik Gendingan Probolinggo milik Belanda dan merasa kesal dengan perilaku Belanda terhadap orang-orang Indonesia setempat.
Sari Turno membentuk kelompok pencak silat yang lambat laun dicurigai oleh Belanda sebagai sebuah upaya pemberontakan.
Untuk menyamarkan kegiatan pencak silat tersebut, Sari Turno menambahkan iringan musik sehingga aktivitas pencak silat terlihat seperti tarian.
4. Diwariskan secara Turun-Temurun
Sejak awal diciptakan, Tari Glipang terjaga kelestariannya hingga kini karena diwariskan secara turun temurun.
Sandari yang merupakan penemu awal mewariskannya kepada Sari Turno dan diwariskan kembali kepada putrinya yang bernama Asiyah.
Asiyah bersama suaminya yang bernama Karto Djirdjo mengembangkan Tari Glipang dengan modifikasi berupa tambahan drama di dalamnya.
Hingga akhirnya diwariskan kembali kepada putra mereka yang bernama Soeparmo.
5. Simbol Keberanian Prajurit
Artikel Terkait
Dikenal Sebagai Tarian Tanpa Pengiring Musik, Inilah Sejarah dan Keunikan Tari Kecak Dari Bali
Pesona 1000 Patung, Cuma Ada di Banyuwangi! Wisata Paling Autentik Ini Surganya Tari Gandrung
Makin Ciamik Diunggah ke Media Sosial, Ayo Download 10 Link Poster dengan Desain Menarik dan Elegan untuk Sambut Hari Tari Sedunia 29 April 2025!
Besok Banget Nih, Apa Sejarah Hari Tari Sedunia? Membongkar Teka-Teki di Balik Tanggal 29 April Untuk Hari Penting Peringatan Karya Seni Terindah
5 Fakta Unik Gambang Kromong, Kesenian Tradisional Betawi dengan Unsur Budaya Tionghoa, Sunda, dan Jawa, Lestari hingga Kini