SketsaNusantara.id - Wayang kulit menjadi salah satu seni tradisi yang bertahan lintas zaman di Jawa.
Di balik kelanggengannya, terdapat proses penyesuaian besar pada masa awal Islam. Perubahan itu berlangsung pada era Kesultanan Demak.
Pada masa Sultan Demak pertama, seni wayang tidak dihapus. Wayang justru diarahkan menjadi sarana dakwah Islam. Keputusan tersebut diambil setelah pertimbangan bersama para wali.
Dikutip dari buku Atlas Wali Songo karya KH Agus Sunyoto, R. Poedjosoebroto dalam buku Wayang Lambang Ajaran Islam terbitan 1978 mencatat arah kebijakan tersebut.
Sultan Demak merumuskan 9 pandangan penting. Kesembilan pandangan ini menjadi dasar transformasi wayang kulit.
1. Disesuaikan Zaman
Pandangan pertama menyebutkan wayang perlu diteruskan dengan penyesuaian zaman. Seni pertunjukan tidak ditinggalkan, tetapi disesuaikan dengan konteks masyarakat. Keberlanjutan budaya tetap dijaga.
2. Menjadi Alat Dakwah Islam
Pandangan kedua menempatkan wayang sebagai alat dakwah Islam. Pertunjukan wayang dianggap efektif menyampaikan ajaran. Media ini dekat dengan masyarakat Jawa kala itu.
3. Visual Wayang
Pandangan ketiga berkaitan dengan bentuk visual wayang. Tokoh yang menyerupai manusia harus dideformasi. Hal ini dilakukan karena larangan penggambaran arca dalam Islam.
4. Isi Cerita Wayang
Artikel Terkait
Kisah Tragis Buto Cakil, Karakter Wayang Kulit Asli Jawa yang Selalu Mati Konyol, Ternyata Anak Hasil Perbuatan Bejat Arjuna
Dihormati tapi Juga Dibenci, Misteri Ksatria Wayang Kulit Berwujud Raksasa, Kutukan akibat Perbuatan Ayahnya?
3 Duet Maut di Wayang Kulit Jawa, Anak-Anak Pandawa Paling Sakti dan Kompak di Babak Perang Kembang
Dunia Wayang Kulit Berduka, Dalang Senior Ki Warseno Slenk Meninggal Dunia, Sempat Dirawat, Sakit Apa?
Siapa Nama Asli Ki Warseno Slenk? Mengenal Lebih Dekat Dalang Wayang Kulit Senior Bergelar Doktor yang Tutup Usia