Minggu, 19 Juli 2026

9 Perintah Sultan Demak yang Mengubah Wayang Kulit Jadi Media Dakwah Islam di Tanah Jawa

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 25 Januari 2026 | 15:00 WIB
Salah satu pertunjukan wayang kulit yang awalnya untuk dakwah Islam oleh Wali Songo. (gunungkidulkab.go.id)
Salah satu pertunjukan wayang kulit yang awalnya untuk dakwah Islam oleh Wali Songo. (gunungkidulkab.go.id)

Pandangan keempat menyasar isi cerita wayang. Kisah para dewa diubah dan diisi nilai Islam. Tujuannya menghilangkan unsur kemusyrikan.

5. Isi Dakwah

Pandangan kelima menekankan isi dakwah dalam cerita. Wayang harus memuat keimanan, ibadah, dan akhlak. Nilai kesusilaan dan sopan santun menjadi bagian penting.

6. Sumber Cerita

Pandangan keenam berkaitan dengan sumber cerita. Kisah karangan Walmiki dan Wiyasa tidak dihapus. Cerita tersebut diubah agar berjiwa Islam.

7. Posisi Tokoh Wayang

Pandangan ketujuh menjelaskan posisi tokoh wayang. Tokoh dan peristiwa dipahami sebagai lambang. Lambang tersebut diberi tafsir sesuai ajaran Islam.

8. Cara Pementasan

Pandangan kedelapan mengatur tata cara pementasan. Pergelaran wayang harus menjunjung sopan santun. Pertunjukan dijauhkan dari perbuatan maksiat.

9. Memberikan Makna

Pandangan kesembilan memberi makna pada seluruh unsur pendukung. Gamelan dan tembang macapat turut dimaknai. Makna tersebut disusun sistematis sesuai ajaran Islam.

Kesembilan pandangan tersebut membentuk arah baru seni wayang. Wayang tetap hidup sebagai tradisi. Di saat bersamaan, wayang berfungsi sebagai media dakwah Islam di Jawa.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X