Pandangan keempat menyasar isi cerita wayang. Kisah para dewa diubah dan diisi nilai Islam. Tujuannya menghilangkan unsur kemusyrikan.
5. Isi Dakwah
Pandangan kelima menekankan isi dakwah dalam cerita. Wayang harus memuat keimanan, ibadah, dan akhlak. Nilai kesusilaan dan sopan santun menjadi bagian penting.
6. Sumber Cerita
Pandangan keenam berkaitan dengan sumber cerita. Kisah karangan Walmiki dan Wiyasa tidak dihapus. Cerita tersebut diubah agar berjiwa Islam.
7. Posisi Tokoh Wayang
Pandangan ketujuh menjelaskan posisi tokoh wayang. Tokoh dan peristiwa dipahami sebagai lambang. Lambang tersebut diberi tafsir sesuai ajaran Islam.
8. Cara Pementasan
Pandangan kedelapan mengatur tata cara pementasan. Pergelaran wayang harus menjunjung sopan santun. Pertunjukan dijauhkan dari perbuatan maksiat.
9. Memberikan Makna
Pandangan kesembilan memberi makna pada seluruh unsur pendukung. Gamelan dan tembang macapat turut dimaknai. Makna tersebut disusun sistematis sesuai ajaran Islam.
Kesembilan pandangan tersebut membentuk arah baru seni wayang. Wayang tetap hidup sebagai tradisi. Di saat bersamaan, wayang berfungsi sebagai media dakwah Islam di Jawa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kisah Tragis Buto Cakil, Karakter Wayang Kulit Asli Jawa yang Selalu Mati Konyol, Ternyata Anak Hasil Perbuatan Bejat Arjuna
Dihormati tapi Juga Dibenci, Misteri Ksatria Wayang Kulit Berwujud Raksasa, Kutukan akibat Perbuatan Ayahnya?
3 Duet Maut di Wayang Kulit Jawa, Anak-Anak Pandawa Paling Sakti dan Kompak di Babak Perang Kembang
Dunia Wayang Kulit Berduka, Dalang Senior Ki Warseno Slenk Meninggal Dunia, Sempat Dirawat, Sakit Apa?
Siapa Nama Asli Ki Warseno Slenk? Mengenal Lebih Dekat Dalang Wayang Kulit Senior Bergelar Doktor yang Tutup Usia