SketsaNusantara.id - Kampung wisata menjadi bagian penting pengembangan pariwisata berbasis budaya. Di Yogyakarta, konsep ini tumbuh di wilayah perkotaan. Salah satunya adalah Kampung Wisata Pandeyan.
Secara administratif, Kampung Wisata Pandeyan berada di Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo. Lokasinya strategis karena berdekatan dengan kawasan pusat kerajinan dan kuliner Ex TSquare. Akses wisatawan relatif mudah dijangkau.
Dilansir dari Jogjakota.go.id, nama Pandeyan dipercaya berasal dari kata pande. Istilah ini merujuk pada keahlian mengolah besi menggunakan alat tradisional. Pada masa lalu, wilayah ini dihuni banyak buruh pande.
Berbagai peralatan pertanian dan perkakas kayu dihasilkan dari besi. Proses pengerjaan menggunakan bara api dan ububan. Keahlian tersebut menjadi identitas awal kampung.
Selain pande besi, Pandeyan juga dikenal sebagai tempat pembuatan gamelan. Terdapat empu yang ahli menempa instrumen gamelan Jawa. Hingga kini, aktivitas pembuatan gamelan masih ditemukan.
Berdasarkan potensi tersebut, Kampung Wisata Pandeyan dikembangkan berbasis seni dan budaya. Atraksi yang dihadirkan meliputi wayang kulit, karawitan, kethoprak, dan jathilan. Kegiatan macapat dan ledek gogik juga menjadi bagian atraksi.
Pandeyan turut menghadirkan workshop pembuatan gamelan Jawa. Wisatawan dapat menyaksikan proses pembuatan secara langsung. Aktivitas ini memperkuat nilai edukasi budaya.
Kampung ini juga memiliki seni bregodo keprajuritan. Terdapat tiga bregodo keprajuritan putra dan satu putri. Keberadaan bregodo memperkaya atraksi budaya setempat.
Pandeyan dikenal sebagai referensi wisata malam hari di Yogyakarta. Pertunjukan wayang kulit digelar rutin setiap malam Jumat. Kegiatan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB.
Selain wayang kulit, kethoprak juga dipentaskan secara berkala. Pertunjukan kethoprak dijadwalkan setiap malam Selasa. Macapat turut digelar dalam agenda mingguan.
Setiap tahun, Kampung Wisata Pandeyan menyelenggarakan tradisi Bakdo Kupat. Upacara adat ini dilaksanakan satu minggu setelah Idulfitri. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur warga.
Prosesi dimulai dengan kirab gunungan ketupat. Arak-arakan diiringi jodang berisi ketupat dan lauk pauk. Peserta kirab melibatkan warga dan kelompok kesenian.
Artikel Terkait
10 Daya Tarik Kampung Wisata Code Cokrodiningratan Yogyakarta, Dari Susur Sungai hingga Jejak Bangunan Belanda
13 Daya Tarik Kampung Wisata Niti Gedongkiwo, Kampung Budaya Yogyakarta dengan Seni Tradisi dan Kerajinan Warga
Pesona Kampung Wisata Sosromenduran Yogyakarta, Kampung Multikultur Strategis dengan Atraksi Seni dan Tradisi Apeman
Potensi Kampung Wisata Kali Gajah Wong Giwangan Yogyakarta dari Bendhung Lepen hingga Dermaga Cinta yang Ramai Diminati
Kampung Wisata Patangpuluhan di Yogyakarta, Kawasan Seni Budaya di Tepi Kali Winongo dengan Jejak Sejarah Kraton