Toxic masculinity bukan hanya soal kekerasan atau dominasi, tetapi juga tentang bagaimana laki-laki dipaksa menekan kerentanannya.
Ketika mereka menghadapi tekanan akademik, masalah keluarga, atau rasa terisolasi, seperti yang mungkin dialami oleh DRY, ekspresi emosional tidak dianggap sebagai pilihan.
Sebaliknya, banyak yang memilih untuk bungkam, memendam, hingga pada akhirnya merasa kehilangan harapan.
Peristiwa ini adalah pengingat mendesak bahwa konstruksi sosial yang membungkam laki-laki harus dibongkar.
Diskusi tentang kesehatan mental tidak hanya perlu melibatkan penyedia layanan atau ahli, tetapi juga masyarakat luas. Ruang untuk berbicara tanpa rasa takut akan dihakimi menjadi kebutuhan penting bagi laki-laki di semua kelompok usia.
Baca Juga: Peristiwa Mahasiswa Unej Diduga Bundir, Wakil Rektor III Pastikan Korban Lompat dari Lantai 8
Kisah tragis ini seharusnya memantik refleksi bersama tentang pentingnya mendorong laki-laki untuk bercerita, mendobrak stigma tentang kelemahan, dan membangun budaya dukungan emosional yang lebih sehat. Semua berhak bercerita apapun gendernya!***
*Penulis adalah founder Bloomind Jember, sebuah komunitas literasi yang pro gender dan equality
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!