Merpati pos, merpati balap andukan, dan merpati hias seperti merpati ekor kipas dan merpati-merpati import, mereka tidak dibuatkan pajudun. Cukup dibuatkan sebuah boks yang menempel di tembok rumah, biasa disebut ampik-ampik. Ada juga yang dibuatkan kombong dari bahan galvalum dan jaring kawat baja.
Beberapa merpati getakan memang ada yang memiliki kandang seperti kombong, namun terbuat dari bahan-bahan kayu dan bambu, dengan bilik dari anyaman bambu. Model pajudun bawah seperti ini kerap disebut leggin.
Baca Juga: Mengenal Sosok Achmad Supandi, Sang Begawan Lukis dari Rambipuji Jember
Masing-masing material pajudun dipilihkan dari kayu-kayu khusus seperti kayu pohon pinang, burnih, pace, juwet, jambu biji, dan beberapa lagi. Akan baik bila diambilkan kayu dari pohon yang memproduksi biji-bijian.
Merpati getakan menghasilkan produk-produk kebudayaan. Selain arsitektur pajudun yang penuh filosofi, masih ada sawangan yang dapat menghasilkan bunyi bila si merpati getakan terbang di udara, anting-anting, hingga musik. Ada musik tradisional yang tidak dipersembahkan untuk manusia melainkan untuk para merpati peliharaan, yaitu musik tradisional glundengan.
“Dulu, musik tradisional patrol mula-mula juga digunakan untuk merpati, sama seperti glundengan. Bermula dari kentongan untuk memanggil merpati pulang di jam-jam makan, atau menuntun merpati getakan pulang saat mereka terjebak embun. Kemudian ia berevolusi, ada inovasi, dan mencapai bentuk terbaiknya sebagai musik patrol yang fungsinya bergeser. Membangunkan orang untuk sahur di bulan Ramadhan, juga perform," jelas RZ Hakim, dari Sudut Kalisat.
Baca Juga: Semangat Anindya Asti Wibowo, Melukis untuk Menyalakan Api dan Mengawetkan Kenangan
Musik glundengan biasa tampil ketika ada pelepasan merpati getakan secara bersama-sama di tempat yang telah disepakati. Pelepasan ini disebut totta’an.
Tak hanya itu, dunia merpati getakan mengenal sebuah peristiwa yang layak untuk dijadikan alasan untuk bikin pesta kecil. Peristiwa itu bernama nyatta, yaitu ketika si pemilik pajudun menyadari ada merpati asing yang datang ke pajudun miliknya. Sebagai penanda bahwa dia mendapatkan merpati bandangan maka dimainkanlah musik glundengan. Karena terdiri atas banyak personil dan butuh waktu untuk itu, setidaknya pemilik pajudun harus membunyikan tek-tek sebagai legitimasi atas merpati yang baru tiba tersebut.
Malam harinya, ketika semua sudah siap, baik musik glundengan maupun hidangan buat para tetangga dan handai tolan yang hadir, maka irama glundengan itu pun segera dimainkan.
Musik glundengan dimainkan oleh sekitar sepuluh orang. Masing-masing ada di posisi tek-tek, tong-tong, dan dung-dung. Tiga-tiganya adalah alat musik pukul yang terbuat dari kayu. Biasanya berbahan kayu nangka, tapi bisa juga dari bahan kayu yang lain seperti bayur. Khusus dung-dung, alat musik kentongan yang paling besar, dia bisa dibuat dengan menggunakan bahan kayu kelapa. Sama seperti di musik tradisional patrol, dung-dung berfungsi sebagai bass. Ukuran medium adalah tong-tong, dan kentongan paling kecil adalah tek-tek.
Pola hubungan antara merpati getakan dengan pemiliknya, produk-produk budaya yang muncul dari persahabatan itu, juga identifikasi merpati lokal di masing-masing kabupaten di ujung timur Jawa dan di empat kabupaten di Pulau Madura, itulah yang hendak ditawarkan oleh kolektif Sudut Kalisat pada pameran tahunan Kalisat Tempo Dulu 9 kali ini.
“Kali ini kami mencoba menawarkan hal yang berbeda. Setelah pameran ‘Dara Memeta Kota’ usai, kami tetap akan melanjutkan proses pengamatan berbasis lapangan, berharap bisa mengumpulkan hasil-hasil riset tersebut dalam bentuk buku secara series," jelas RZ Hakim.