sketsa

Sambut Tahun Ajaran Baru: Tiga Langkah Konkrit Jaga Eksistensi Perpustakaan Demi Peningkatan Kualitas Pendidikan

Minggu, 12 Juli 2026 | 22:45 WIB
Mukani (SketsaNusantara.id)

Oleh: Mukani*

Mulai hari Senin, 13 Juli 2026 ini, sebanyak 553.677 satuan pendidikan umum di Kemendikdasmen RI dan 87.397 madrasah di bawah Kementerian Agama RI di seluruh Indonesia akan memasuki tahun ajaran baru 2026/2027. Berbagai rutinitas tentu dilakukan sebagaimana tradisi tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari penerimaan murid baru, pengenalan lingkungan sekolah, penyusunan perangkat pembelajaran guru hingga pertemuan walimurid.

Ada satu hal terlupakan (atau mungkin dilupakan?) setiap tahun ajaran baru tiba. Eksistensi perpustakaan di sekolah/madrasah masih belum menunjukkan signifikansinya. Keberadaannya sering “diinterpretasikan” sebagai tempat untuk mengumpulkan buku. Padahal, secara teori, eksistensi perpustakaan bagi peningkatan kualitas pendidikan sangat vital bagi sebuah sekolah/madrasah.

Paran Penting

Pada akhir tahun 2025, data dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI menunjukkan terdapat 219.415 unit perpustakaan di seluruh Indonesia. Rinciannya perpustakaan umum sebanyak 23.611 unit, perpustakaan sekolah ada 155.903 unit, perpustakaan perguruan tinggi sebanyak 2.411 unit dan perpustakaan khusus ada 2.354 unit. Dari jumlah itu, sebanyak 16.915 perpustakaan telah terakreditasi oleh Perpusnas.

Baca Juga: ‎10 Pantun Perkenalan Siswa Baru di Tahun Ajaran Baru, Buka Awal Masuk Sekolah dengan Semangat dan Seru

Sebagaimana amanat UU Nomor 43/2007 tentang Perpustakaan, koleksi perpustakaan harus bervariasi. Tidak sekedar karya tulis. Juga berupa karya cetak ataupun karya rekam.

Perpustakaan sekolah, sebagai contoh, sebenarnya mampu membantu siswa agar terlatih belajar mandiri. Tidak menganggap guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Dengan bimbingan guru dan staf perpustakaan, siswa lebih kreatif dalam menggali hal-hal baru di luar penyampaian guru.

Itu semua akan mewujud jika ditunjang manajemen yang memadai. Sehingga seluruh aktivitas perpustakaan mengarah kepada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Seluruh elemen perpustakaan pun akan berusaha memfungsikan diri sesuai etos kerja perpustakaan.

Bahkan Smith, dalam The Educator’s Encyclopedia, sebagaimana dikutip Ibrahim Bafadhal (2011), menyatakan bahwa perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar. Ini karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan para siswa adalah belajar. Baik belajar masalah-masalah terkait langsung dengan mata pelajaran yang diberikan, maupun buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran.

Baca Juga: Siapa Bapak Pendidikan Nasional? Mengenal Ki Hajar Dewantara, Pendiri Taman Siswa dan Sosok di Balik Hardiknas 2 Mei

Hal senada ditegaskan Fatah Syukur (2012). Bahwa di samping berfungsi penyimpanan, pendidikan, penelitian dan informasi, perpustakaan juga memiliki misi kultural. Artinya, perpustakaan bertugas menyimpan khazanah budaya bangsa serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat melalui penyediaan bahan bacaan.

Perpustakaan adalah sarana pelestarian budaya. Dengan memberikan dan menjaga buku-buku yang mengenai sejarah budaya bangsa atau perkembangan budaya sekarang.

Perpustakaan juga dituntut mampu membentuk budaya bangsa yang gemar literasi. Tidak sekedar membaca, namun juga didorong sebagai subjek untuk menghasilkan karya tulis. Terutama bagi kalangan generasi muda.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB