Ibu bukan sekadar pengasuh fisik, melainkan agen perubahan yang paling strategis dalam membentuk kesadaran gender anak. Ibu memiliki kendali atas narasi yang didengar anak setiap hari. Untuk memutus siklus bias gender ini, diperlukan langkah konkret:
- Adanya penyetaraan tugas domestik. Anak diberi tanggung jawab rumah tangga berdasarkan usia, bukan jenis kelamin. Orang tua memastikan anak laki-laki mampu memasak dan membersihkan rumah, sebagaimana anak perempuan didorong untuk memiliki ketegasan dan keterampilan teknis.
- Perlunya standardisasi disiplin. Jangan memberikan kelonggaran aturan kepada anak laki-laki atas kesalahan yang dilarang bagi anak perempuan. Keadilan aturan akan melahirkan rasa respek yang tulus antar saudara.
- Perlunya literasi emosi. Berhenti melarang anak laki-laki menangis. Anak laki-laki yang mengenal emosinya akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu berempati terhadap orang lain. Sebaliknya, dukung anak perempuan untuk berani bersuara dan mengambil keputusan.
- Adanya keteladanan relasi. Anak adalah peniru ulung. Mereka belajar tentang rasa hormat dengan melihat bagaimana ibu dan ayah berinteraksi sebagai mitra yang setara dalam mengambil keputusan keluarga.
Pesan untuk Mahasiswa dan Masyarakat Umum
Peran ibu memang signifikan, tapi upaya ini membutuhkan sinergi dari sistem yang lebih luas. Bagi para mahasiswa, aktivis pergerakan, dan masyarakat umum, normalisasi seksisme harus dihentikan. Di lingkungan kampus maupun organisasi, jangan biarkan pelecehan atau perendahan terhadap salah satu gender dianggap sebagai lelucon.
Aktualisasi jati diri perempuan bukan tentang upaya mendominasi pihak lain, melainkan tentang hak untuk dihargai sebagai mitra manusia yang utuh. Laki-laki yang terhormat adalah mereka yang mampu menghargai perempuan sebagai rekan sepadan, dan perempuan yang bermartabat adalah mereka yang berani bersikap tegas menetapkan batasan.
Hari Perempuan Sedunia harus menjadi pengingat bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari podium pidato kenegaraan. Ia sering kali dimulai dari dapur, ruang tamu, dan pola asuh yang adil di rumah. Jika kita ingin mencetak generasi yang saling menghargai, maka ibu harus menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan dinding-dinding bias tersebut. Mari kita kembalikan kehormatan kemanusiaan dengan mendidik anak-anak kita dalam keadilan sejak dalam pikiran.***
*Pegiat Pendidikan Nonformal dan Informal; Ketua 2 DPP ASTINA (Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional), Ketua bidang Peningkatan Mutu PTK DPW FK-PKBM Jatim, LP Ma'arif PCNU Jombang bidang PNF
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!