sketsa

Dari Hancurit ke Anjay: Melebur Makna, Menempa Nalar

Senin, 3 November 2025 | 17:10 WIB
Hari Prasetya (Dok. SketsaNusantara.id)

Oleh: Hari Prasetia* 

SketsaNusantara.id - Percakapan santai dengan Wiji Mulyo Maradianto, yang lebih dikenal dengan nama Dian Sukarno, budayawan Njombangan yang cerdas dan penuh humor, membuka ruang refleksi menarik tentang perubahan bahasa dan ekspresi sosial dalam masyarakat kontemporer. Awalnya, diskusi tentang istilah “hancurit” terdengar ringan, bahkan cenderung guyonan. Namun di balik kelucuan itu, terselip perenungan serius tentang bagaimana budaya tutur Jawa—terutama di wilayah Mataraman dan sekitarnya—mengalami proses peleburan makna yang signifikan akibat arus digital dan perubahan sosial.

Pak Dian menjelaskan bahwa hancurit semula merupakan ekspresi kejengkelan atau penyangatan (baca: ekspresi lebih atau sangat), bentuk luapan rasa tidak nyaman yang spontan namun tetap berakar pada etika Jawa. Seiring waktu, istilah ini melebur menjadi ekspresi ringan, bahkan humoris. Ia menambahkan bahwa di wilayah Njombangan, terdapat pula ekspresi seperti “hambok sumprit” atau versi lebih dramatiknya “suuumprito”, yang merepresentasikan gaya penyangatan khas Mataraman: bukan makian kasar, melainkan luapan rasa dalam bentuk permainan bunyi dan ritme bahasa. Di titik ini, bahasa menjadi arena rasa—antara kelakar dan kejujuran, antara kritik dan keakraban.

Baca Juga: Guru SMAN Dagangan Terpilih Nahkodai PC GP Ansor Kabupaten Madiun 2025-2029

Penulis kemudian menimpali dengan pertanyaan: apakah fenomena hancurit ini bisa disamakan dengan misuh dalam bahasa Suroboyoan—yang kini juga melebur maknanya di masyarakat, seperti kata “anjay” dalam bahasa anak muda masa kini? Dulu, kata-kata seperti itu mungkin dianggap kasar atau tidak pantas. Namun kini, di media sosial, kata “anjay” misalnya, sering digunakan sebagai ekspresi spontan kagum atau keterkejutan, bukan lagi makian. Peleburan makna ini bukan sekadar pergeseran linguistik, melainkan juga gejala sosial dan kultural: ketika batas antara sopan dan tidak sopan, antara sakral dan profan, menjadi semakin cair.

Pak Dian kemudian menanggapi dengan kalimat yang sangat berkesan: “Tergantung individu dan tren medsos, Pak Guru. Dulu rujukan bersikap dan berperilaku dilewatkan dongeng pengantar tidur. Transformasi nilai berlangsung alami tanpa bombardir khotbah. Sekarang, ketika informasi dibuka seluas-luasnya lewat medsos, rujukan itu semakin absurd.”

Baca Juga: 8 Link Twibbon Hari Kesehatan Nasional 2025, Rayakan HKN ke-61Tahun dengan Gambar Baru dan Menarik

Kalimat ini, meski diucapkan santai, sesungguhnya mencerminkan perubahan paradigma dalam transmisi nilai budaya. Dulu, nilai-nilai moral dan sosial diwariskan secara halus dan gradual melalui tradisi lisan—dongeng, tembang, pitutur, atau humor bapak-ibu di rumah. Kini, nilai-nilai itu bersaing dalam ruang digital yang bising dan serba instan. Nilai tidak lagi tumbuh dalam keheningan, melainkan direduksi menjadi “trend”, “konten”, dan “hashtag”.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin dari dinamika sosial. Dalam teori linguistik sosial, perubahan makna kata mencerminkan perubahan pola pikir dan sistem nilai masyarakat. Istilah hancurit atau anjay adalah bukti bagaimana masyarakat modern memaknai ulang ekspresi emosionalnya dalam konteks baru. Ketika ruang sosial berubah, makna pun bergerak. Namun, pergerakan ini tidak selalu buruk. Dalam kerangka semiotika budaya, perubahan makna justru menunjukkan vitalitas bahasa dan kemampuan adaptif masyarakat terhadap zaman.

Baca Juga: Cek Rekening Sekarang! Bansos BPNT dan BLT Kesra Rp900 Ribu Tahap Empat Tahun 2025 Sudah Cair Melalui BRI BNI BTN Mandiri

Pak Dian menutup obrolan dengan canda: “Kok jadi serius ya? Padahal saya suka humor.” Humor, dalam konteks budaya Jawa, memang bukan sekadar hiburan. Ia adalah wadah kritik sosial yang elegan, jembatan antara logika dan rasa. Dalam humor Jawa, terdapat filosofi ngilo marang githoke dewe—melihat diri sendiri dalam cermin sosial. Bahkan istilah seperti hancurit atau sumprit mengandung daya lenting humor yang menjaga manusia dari kesombongan moral. Bahasa yang hidup bukan bahasa yang kaku dan normatif, melainkan yang mampu menertawakan dirinya sendiri.

Dari obrolan ringan itu, saya lalu menimpali dengan guyonan: “Kalimat terakhir niki, kula cocok kadose. Amargi misal siyen onten kopi, teh, kaleh susu, sakniki nggih onten kopi susu, teh susu, teh kopi, dan seterusnya.” Kami tertawa, tapi di balik tawa itu tersimpan kesadaran bahwa absurditas zaman digital ternyata juga membuka peluang baru bagi kreativitas dan toleransi. Jika dulu masyarakat terlalu kaku membedakan antara “baik” dan “buruk” secara biner, kini kita belajar memahami konteks, niat, dan situasi sebelum menghakimi.

Baca Juga: Jalur Dagang Nusantara Mengguncang Dunia Abad ke-15, Beginilah Perjalanan Rempah dari Barus ke Maluku

Dengan demikian, absurditas bukan berarti kehilangan makna, tetapi justru melahirkan lapisan makna baru. Di tengah derasnya arus informasi, manusia modern belajar menavigasi antara yang lucu dan yang serius, antara yang vulgar dan yang jujur. Generasi muda dan tua kini berbagi ruang linguistik yang sama—meski dengan gaya dan frekuensi yang berbeda. Hancurit, anjay, atau sumprit adalah bentuk kebudayaan yang bergerak, beradaptasi, dan tetap hidup.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB