sketsa

Spring Code Tamasya Halaman Belakang: Menyusun Ulang Ingatan Kota, Menghidupkan Memori Air, dan Merawat Solidaritas Ekologis Lewat Seni Kolektif

Senin, 29 September 2025 | 09:00 WIB
Nabila, salah satu anggota kolektif Tamasya Halaman Belakang, melakukan performa di rangkaian acara Spring Code (SketsaNusantara.id/ Zuhana Anibuddin Zuhro)

Oleh: RZ Hakim*

SketsaNusantara.id - Di sebuah tanah lapang yang masih becek selepas hujan, bambu-bambu kering ditancapkan menjulang seperti penanda ritual kuno. Di belakangnya, deretan pohon sengon berdiri gagah, menunggu giliran ditebang sebagai bagian dari siklus hutan produksi. Namun malam itu, yang hadir bukan para penebang atau pedagang kayu, melainkan sekelompok orang dengan satu keresahan yang sama: bagaimana kita kembali mengingat air sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar komoditas.

Itulah suasana Spring Code, sebuah inisiatif yang digagas oleh Tamasya Halaman Belakang (THB) sebagai bagian dari Sesarengan Jatim Biennale XI 2025. Program ini tidak mengambil bentuk pameran seni formal dalam ruang berpendingin udara, melainkan sebuah perayaan kolektif di tengah masyarakat, di Kelurahan Karangrejo, Sumbersari, Jember. Di sinilah seni, sejarah, dan ekologi saling bertaut, membentuk ruang refleksi tentang makna air dan narasi kota yang terus berubah.

Spring Code lahir dari kegelisahan sederhana namun mendasar, yaitu keterputusan masyarakat dengan narasi budaya dan etika lingkungan. Mata air, yang dulunya menjadi pusat kehidupan sosial, spiritual, dan kultural, kini semakin terpinggirkan. Tradisi slametan, larangan adat, atau cerita rakyat yang dahulu menjaga kelestarian air perlahan terkikis modernisasi.

Baca Juga: Ketika Perempuan Menenun Perlawanan: Pameran Cerita Foto Mama Aleta Fund Angkat Suara Pulau-Pulau Kecil di Tengah Krisis Iklim

Air, dalam arus industrialisasi, direduksi menjadi komoditas utilitas—sekadar angka dalam tagihan, sekadar aliran dalam pipa. Makna komunalnya memudar, meninggalkan kita dengan krisis ekologis sekaligus krisis ingatan.

Melalui instalasi, diskusi, arsip, pertunjukan, hingga penerbitan zine, Spring Code mencoba menghadirkan kembali memori ekologis itu. Program ini mengingatkan bahwa air bukan hanya soal konsumsi, melainkan juga tentang identitas, spiritualitas, dan peradaban.

Karangrejo dalam Jejak Nama, Jejak Ingatan

Nama Karangrejo menjadi pintu masuk menarik untuk merenungkan keterhubungan antara air, kota, dan sejarah. Kata rejo dalam bahasa Jawa kerap bermakna ramai atau makmur, dan banyak desa di Jawa Timur menyandangnya. Seorang budayawan dari desa Biting, Abdul Rasyid, pernah berkata, “Nama dusun atau desa di Jember yang rejo-rejo itu sudah berbau Mataram.”

Baca Juga: Dari Lorstkal ke Lorskal: Begini Perjalanan Musik IKL, Band Country Lawas Asal Kalisat yang Masih Eksis Sejak 1980-an

Etimologi rakyat ini menyimpan lapisan ingatan panjang. Jember sendiri, sebagaimana dicatat penulis Belanda C. Lekkerkerker pada 1930, berarti “tanah basah, berlumpur, atau rawa. ” Warga lebih suka mengartikannya sebagai jembar (luas) atau jembher (Maduranya luas), daripada “jorok.” Maka, Jember bisa dimaknai sebagai tanah luas yang basah—sebuah definisi yang sangat sesuai dengan lokasi Spring Code: tanah lapang yang tergenang, diapit dua sungai legendaris, Bedadung dan Jompo.

Rangkaian acara dimulai pada 26 September 2025 dengan sebuah praktik yang akrab dalam tradisi desa yaitu bersih-bersih sumber mata air dan slametan bersama warga Karangrejo. Sesaji, doa, dan nasi berkat mengikat warga dengan alam di sekitar mereka. Di tengah ritual sederhana itu, Spring Code menegaskan dirinya bukan sekadar proyek seni, melainkan juga proses sosial.

Malam harinya, panggung sederhana berdiri dengan latar bambu. Anti Gelanggang, kolektif seni dari Jember, tampil dengan energi yang mengguncang. Disusul Wahono Simbah dan Pak Waqik, seniman mamacah lokal Karangrejo, yang menuturkan kisah dalam tembang lirih nan dalam. Pertemuan lintas generasi itu menjadi jembatan antara tradisi dan eksperimen.

Baca Juga: Kalisat Tempo Dulu 10: Cara Sudut Kalisat Merawat Harapan dan Ingatan akan Kampung Halaman melalui Lanskap Perkebunan Jember

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB