Oleh: RZ Hakim*
SketsaNusantara.id - Di sebuah tanah lapang yang masih becek selepas hujan, bambu-bambu kering ditancapkan menjulang seperti penanda ritual kuno. Di belakangnya, deretan pohon sengon berdiri gagah, menunggu giliran ditebang sebagai bagian dari siklus hutan produksi. Namun malam itu, yang hadir bukan para penebang atau pedagang kayu, melainkan sekelompok orang dengan satu keresahan yang sama: bagaimana kita kembali mengingat air sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar komoditas.
Itulah suasana Spring Code, sebuah inisiatif yang digagas oleh Tamasya Halaman Belakang (THB) sebagai bagian dari Sesarengan Jatim Biennale XI 2025. Program ini tidak mengambil bentuk pameran seni formal dalam ruang berpendingin udara, melainkan sebuah perayaan kolektif di tengah masyarakat, di Kelurahan Karangrejo, Sumbersari, Jember. Di sinilah seni, sejarah, dan ekologi saling bertaut, membentuk ruang refleksi tentang makna air dan narasi kota yang terus berubah.
Spring Code lahir dari kegelisahan sederhana namun mendasar, yaitu keterputusan masyarakat dengan narasi budaya dan etika lingkungan. Mata air, yang dulunya menjadi pusat kehidupan sosial, spiritual, dan kultural, kini semakin terpinggirkan. Tradisi slametan, larangan adat, atau cerita rakyat yang dahulu menjaga kelestarian air perlahan terkikis modernisasi.
Air, dalam arus industrialisasi, direduksi menjadi komoditas utilitas—sekadar angka dalam tagihan, sekadar aliran dalam pipa. Makna komunalnya memudar, meninggalkan kita dengan krisis ekologis sekaligus krisis ingatan.
Melalui instalasi, diskusi, arsip, pertunjukan, hingga penerbitan zine, Spring Code mencoba menghadirkan kembali memori ekologis itu. Program ini mengingatkan bahwa air bukan hanya soal konsumsi, melainkan juga tentang identitas, spiritualitas, dan peradaban.
Karangrejo dalam Jejak Nama, Jejak Ingatan
Nama Karangrejo menjadi pintu masuk menarik untuk merenungkan keterhubungan antara air, kota, dan sejarah. Kata rejo dalam bahasa Jawa kerap bermakna ramai atau makmur, dan banyak desa di Jawa Timur menyandangnya. Seorang budayawan dari desa Biting, Abdul Rasyid, pernah berkata, “Nama dusun atau desa di Jember yang rejo-rejo itu sudah berbau Mataram.”
Etimologi rakyat ini menyimpan lapisan ingatan panjang. Jember sendiri, sebagaimana dicatat penulis Belanda C. Lekkerkerker pada 1930, berarti “tanah basah, berlumpur, atau rawa. ” Warga lebih suka mengartikannya sebagai jembar (luas) atau jembher (Maduranya luas), daripada “jorok.” Maka, Jember bisa dimaknai sebagai tanah luas yang basah—sebuah definisi yang sangat sesuai dengan lokasi Spring Code: tanah lapang yang tergenang, diapit dua sungai legendaris, Bedadung dan Jompo.
Rangkaian acara dimulai pada 26 September 2025 dengan sebuah praktik yang akrab dalam tradisi desa yaitu bersih-bersih sumber mata air dan slametan bersama warga Karangrejo. Sesaji, doa, dan nasi berkat mengikat warga dengan alam di sekitar mereka. Di tengah ritual sederhana itu, Spring Code menegaskan dirinya bukan sekadar proyek seni, melainkan juga proses sosial.
Malam harinya, panggung sederhana berdiri dengan latar bambu. Anti Gelanggang, kolektif seni dari Jember, tampil dengan energi yang mengguncang. Disusul Wahono Simbah dan Pak Waqik, seniman mamacah lokal Karangrejo, yang menuturkan kisah dalam tembang lirih nan dalam. Pertemuan lintas generasi itu menjadi jembatan antara tradisi dan eksperimen.