Minggu, 19 Juli 2026

Kalisat Tempo Dulu 10: Cara Sudut Kalisat Merawat Harapan dan Ingatan akan Kampung Halaman melalui Lanskap Perkebunan Jember

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Selasa, 16 September 2025 | 19:30 WIB
Pameran KTD 10: Lanskap Bercakap. (SketsaNusantara.id/Qorry ‘Aina)
Pameran KTD 10: Lanskap Bercakap. (SketsaNusantara.id/Qorry ‘Aina)

SketsaNusantara.id - Kalisat Tempo Dulu (KTD) kembali digelar untuk ke-10 kalinya.

Tahun ini, acara seni dan riset kebudayaan yang diinisiasi oleh kolektif Sudut Kalisat ini mengusung tema “Lanskap Bercakap”, menyusuri ingatan-ingatan sejarah dan kolonialisme yang tertanam dalam lanskap perkebunan Jember.

Pameran berlangsung pada 8-14 September 2025 di Kampung Lortskal, utara Stasiun Kalisat.

Baca Juga: Bersenang-senang di Panggung Kampung ala Kalisat Tempo Dulu Bersama Orkes Silampukau dan Kisah dari Negeri Arkipelagia

Menggandeng 22 seniman dari berbagai daerah dan latar belakang, KTD 10 menjadi tonggak baru dalam perjalanan Sudut Kalisat, karena untuk pertama kalinya menggelar program residensi seniman di 10 perkebunan yang tersebar di wilayah Jember.

Mereka melakukan riset lapangan langsung dari 22 Agustus hingga 4 September, tinggal bersama warga dan merekam lanskap, cerita, serta ingatan yang melekat di perkebunan-perkebunan tersebut.

"Mereka membaca kembali jejak kolonialisme yang tertanam dalam tanah, rel, dan kebun-kebun yang membentuk wajah Jember hari ini," kata Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat.

Baca Juga: Konsisten 10 Tahun Merekam Ingatan, Sudut Kalisat kembali Menggelar Kalisat Tempo Dulu: Landskap Bercakap

Lewat riset mendalam, para seniman mengungkap jejak-jejak kolonialisme dan transisi sosial-ekonomi yang terjadi akibat ekspansi perkebunan sejak masa kolonial Belanda.

Bahkan konon, nama 'Jember' diyakini berasal dari kata 'Jembrek', yang artinya rawa atau becek.

Namun sayang, asal nama 'Jembrek' kini nyaris terlupakan karena tertutupi citra Jember sebagai kota tembakau.

"Maka, perkebunan menjadi pengingat sekaligus membuat masyarakat lupa akan akarnya," ucapnya.

Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal

Pun dengan kisah Kalisat yang dulunya bernama 'Sukokerto', sebelum Stasiun Kalisat berdiri dan menjadi simpul distribusi hasil bumi kolonial.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X