Oleh: Syarif Hidayat Santoso*
SketsaNusantara.id - Di bulan Maulid, jamak dijumpai tradisi Salameddhan Molod yang meriah di Madura. Meski maulid dikritik oleh gerakan transnasional, namun sebagai tradisi global sekaligus lokal yang eksis di mana-mana, maulid senantiasa hadir dengan dinamisasinya sendiri. Maulid hadir dengan aneka keriuhan dan kemeriahannya sendiri pada masyarakat Madura aneka strata. Maulid tidak membelah masyarakat menjadi aneka macam identitas berbeda yang saling membedakan.
Semua bisa berkumpul dalam maulid. Karenanya, maulid itu merupakan identitas yang meneguhkan rampak naong baringin korong. Harmoni sosial hadir dalam maulid terutama di masjid dan langgar di mana masyarakat menyumbang secara sukarela. Di sini maulid menyerupai biological organism ala Herbert Spencer. Soliditas masyarakat dalam ajhung rojhung tampil. Maka ta’ menta jhuma’ (tidak meminta tolong) sulit ditemukan pada pola pikir orang Madura. Dalam maulid di masjid atau langgar, segenap identitas lebur mulai identitas santre, parjaji, blater, kalebun, bindhara, kyae dan oreng dume’.
Maulid seperti itu merupakan cara melawan terhadap pengkotak-kotakan ala Geertz yang sering membagi masyarakat Indonesia dalam trikotomi Abangan, santri dan priyayi. Maulid menciptakan at home in place yang kokoh dalam dunia kebudayaan Madura.
Baca Juga: Salsa Erwina Hutagalung Tantang Ahmad Syahroni Debat Terbuka, Siapa Sebenarnya Orang Ini?
Dalam maulid langgharan (diselenggarakan di langar-langgar) orang Madura kuat dalam song osong lombung (mengusung lumbung) maksudnya dalam urusan makanan dan hidangan masyarakat bekerja sama. Di desa-desa kekompakan itu nampak meski ada satu dua orang yang bada ka bhara’ badha ka temor (menyempal dari kebersamaan).
Budaya jhak-ngajhak (mengajak kerjasama) timbul secara serentak di maulid. Terkadang maulid juga diisi ceramah agama dengan penceramah dari luar kampung. Dihadirkannya penceramah dari luar kampung dalam maulid juga mengandung filosofi tadha oreng jarreppen eserrop dhibi’ (tidak ada orang kelilipan ditiup dengan mulutnya sendiri). Hadirnya penceramah dari luar daerah akan memudahkan lahirnya kritik obyektif, beda jika penceramahnya adalah kiai setempat yang harus terkungkung todus (malu) dan sengka (sungkan) dalam menasihati masyarakat.
Filosofi ter-ater (saling mengantar makanan) yang hadir dalam maulid juga melanjutkan tradisi sebelumnya, tajhin sora (bubur syuro) dan tajhin sappar (bubur safar) dan sesudahnya yaitu salameddhan arasol (slametan bulan Rabiul Akhir).
Baca Juga: Polisi Imbau Peserta Aksi Buruh Tidak Live TikTok, Netizen: Apa Rasionalitasnya?
Uniknya, di madura, tajhin sappar adalah bubur manis merah putih yang disuguhkan di bulan safar. Tak hanya itu, filosofi merah putih yang diidentikkan dengan cucu Rasul, Hasan-Husen dihadirkan dalam suasana Safar bukan Muharram. Di sini jelas, sikap kesunnian ditampilkan. Identitas Hasan-Husein dihadirkan di bulan Safar bukan Muharram seperti ajaran syiah.
Orang Madura sudah memberi sinyal bahwa ada perbedaan antara Islam Madura dengan Islam syiah. Islam syiah dari Iran yang masuk beberapa tahun terakhir itu sebenarnya sudah ditangkal dengan metode kebudayaan ini.
Tajhin sappar secara kultural sebenarnya penegasan akan kesunnian orang Madura yang tak sama dengan syiah. Bagi orang Madura, semua putra-putri Rasul itu didudukkan setara tanpa harus berat sebelah kepada salah satu pihak. Di kampong-kampong Arab di Madura, para sayyid dan syarif tak dibedakan kecuali atas dasar kealiman semata. Keturunan rasul (para sayyid dan syarif) mungkin hanya dibedakan jika bersalaman semata.
Di kalangan santri Madura, terkadang dijumpai tradisi menyalami para keturunan nabi justru sebelum mereka menyalami para kiai pribumi. Hal itu sebenarnya lumrah saja, karena para santri itu hanya mengamalkan dhabuh (pitutur) Imam Ahmad Bin Hajar tentang hadits Qaddimuu Quraisyan (dahulukan orang quraisy).