Di Madura, Rasulullah dihadirkan dalam tradisi. Konsep sedekah dipribumisasi agar selaras dengan kondisi kejiwaan masyarakat. Maka, sedekah yang dikaitkan dengan simbol-simbol tertentu sejak Muharram, Safar, Rabiul Awwal dan Rabiul Akhir selalu hadir dengan identitas agama.
Di bulan Muharram, tajhin sora justru bubur beraneka ragam yang maknanya tak lagi monoton. Tajhin sora mengajarkan keragaman seperti isi tajhin sora yang beraneka macam sejak kacang tanah, parutan kelapa sampai telur. Muharram sebagai bulan yang diharamkan untuk berkonflik dihadirkan dengan spirit persatuan ala tajhin sora. Sebagai ter-ater tajhin sora dihadirkan dengan membawa spirit perdamaian dan syukur.
Bahkan penegasan anti syiah ini juga nyata pada bulan Rasol. Jika tradisi syiah mengenal kesyahidan Husein itu dengan arbain (perayaan 40 hari wafatnya Husein) yang jatuh di bulan Safar, orang-orang Madura justru meneguhkannya kesunniannya kembali pada bulan Rasol melalui Slamedan Rasol atau Arasol.
Arasol sendiri mengandung makna peringatan empat puluh hari lahirnya Rasulullah (Molang Are). Orang Madurapun sangat menentang sikap alesan ghula abugghik memba (berlisankan gula manis berpunggung mimba pahit). Sikap pura-pura, munafik sangat tidak disukai. Dalam konteks Madura, ajaran taqiyyah ala Syiah sangat ditentang keras.***
*Penulis adalah Pemerhati Masalah Agama dan Kebudayaan.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
8 Link Twibbon Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, Jajal Keseruan dengan Unggah di Medsos pada September 2025
Contoh Ceramah tentang Maulid Nabi Muhammad SAW: Sosok Pemimpin Ideal, Mengubah Zaman Jahiliyyah Menjadi Cahaya Iman
10 Ide Tema Maulid Nabi Muhammad SAW 2025, Menginspirasi dan Bermakna Cocok untuk Kajian Masjid hingga Acara Sekolah