Menurut Paul G Stoltz (1997), AQ merupakan skor yang mengukur kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup. Dia adalah salah satu indikator kemungkinan keberhasilan seseorang dalam hidup. AQ sangat berguna untuk memprediksi sikap, stres mental, ketekunan, umur panjang, pembelajaran dan respon terhadap perubahan lingkungan.
Seseorang yang memiliki AQ tinggi, dia akan menunjukkan beberapa indikator. Misalnya ulet, optimis, berani, kreatif, mampu beradaptasi, cerdas secara emosional dan mampu mengubah kesulitan menjadi peluang. Termasuk di dalamnya adalah sikap memiliki penghargaan diri dan motivasi diri.
Stoltz juga menambahkan bahwa AQ sangat dipengaruhi oleh beberapa hal. Seperti pengalaman hidup, dukungan sosial, sikap mental positif, pembelajaran dan pengembangan pribadi. Kesemuanya itu membutuhkan pengalaman riil dalam kehidupan nyata.
Berkaca kepada eksplorasi teori Stoltz, generasi milenial Indonesia sudah waktunya memperkuat AQ yang dimiliki. Peristiwa hijrah yang dilakukan Nabi Saw dan para sahabatnya menjadi salah satu teladan terbaiknya. Bahwa kesuksesan tidak bisa datang sendiri dengan hanya berpangku tangan. Tapi diperjuangkan secara total. Karena kecanggihan teknologi tentu tidak akan pernah mampu membentuk AQ dalam diri generasi modern.***
*Alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang dan penulis buku Nasionalisme Generasi Milenial (2024)
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini